News  

Kisah Gerilya Jalur Maut Banyumas: Dari Senjata Lebah Penyengat hingga Hujan Kanon di Cilongok

Monumen Poedjadi Djaring Bandajoeda. Foto: Arbi Anugrah
banner 120x600

Satu regu pasukan pengawal Belanda yang siaga di gerbong terbuka depan lokomotif melompat turun. Saat serdadu Belanda sibuk membongkar tumpukan batu dan membuka karung, ribuan lebah penyengat keluar berhamburan, menyerang dan menyengat wajah serta tubuh para serdadu.

Di tengah situasi konyol dan kacau balau tersebut, Kompi Poedjadi langsung melancarkan gempuran peluru dari arah semak-semak. Kereta terpaksa mundur menyelamatkan diri dengan meninggalkan pasukan pengawal yang terkepung. Hasilnya, lima serdadu Belanda tewas, empat orang ditawan hidup-hidup, serta sejumlah senjata tajam jenis LE dan bren berhasil dirampas pejuang.

Jebakan ‘Jaring Bandajoeda’ dan Hujan Kanon di Desa Gunung Lurah

Keesokan harinya, Senin Wage, Pasukan Poedjadi bergeser ke arah utara menuju Desa Gunung Lurah di lereng selatan Gunung Slamet. Lokasi ini memang menjadi salah satu basis gerilya dan pusat pemerintahan darurat setelah Kota Purwokerto jatuh.

Siang hari, dua regu patroli Belanda dari Grumbul Damaraja mulai merangsek masuk ke Gunung Lurah. Gerak-gerik mereka diperhatikan oleh seorang petani di sawah yang melihat serdadu musuh melintasi jembatan gantung. Petani tersebut berlari kencang melaporkan temuan itu kepada para prajurit TNI yang tengah mencuci pakaian di sungai dan menyantap sarapan.

Mendapat laporan mendadak, Komandan Poedjadi segera mengomandoi pasukannya untuk membentuk formasi tapel kuda (melengkung mengepung) di tengah hamparan sawah. Taktik ini dirancang bagai jaring yang siap mengurung mangsa tanpa celah, kelak mengilhami nama Jaring Bandajoeda.

Belanda melangkah masuk semakin dalam ke area perkampungan tanpa menyadari bahaya. Suasana sawah dibuat hening mencekam sampai seluruh serdadu musuh benar-benar masuk ke dalam lingkar jebakan. Begitu komando tembak diteriakkan, gempuran serentak meletus dari segala penjuru.

Terjebak di tengah sawah terbuka, pasukan Belanda kocar-kacir dan berulang kali meminta bantuan udara. Pertempuran berdarah berlangsung seharian penuh hingga pukul 16.00 WIB. Patroli Belanda lumpuh total dan hanya menyisakan beberapa gelintir serdadu yang berhasil meloloskan diri.

Murka atas kekalahan telak di Gunung Lurah, militer Belanda mengerahkan satu pesawat capung dan dua pesawat pemburu cocor merah untuk membombardir area perkampungan. Tak puas dengan serangan udara, mulai pukul 19.00 hingga 21.00 WIB, artileri berat Belanda dari pusat Kota Purwokerto menghujani Desa Gunung Lurah dengan peluru kanon secara membabi buta. Puluhan rumah warga hancur lebur dan sejumlah warga sipil terluka.

Saksi Bisu Tradisi Keprajuritan Rakyat Banyumas

Untuk mengenang peristiwa heroik penumpasan patroli Belanda dan ketabahan warga menghadapi hujan kanon tersebut, di Desa Gunung Lurah didirikan Monumen Poedjadi Djaring Bandajoeda.

Monumen ini menjadi simbol abadi bahwa bumi Banyumas dibesarkan oleh tradisi keprajuritan yang kental secara turun-temurun. Dari tanah inilah lahir nama-nama besar pengawal kedaulatan bangsa seperti Jenderal Besar Soedirman, Gatot Soebroto, Soerono, Mr. Iskak Tjokroadisoerjo, Brotosiswojo, Poedjadi, Koesworo, hingga Hardojo.

Semangat kesatria dan jiwa patriotik yang mengalir di sepanjang aliran Sungai Serayu hingga lereng Gunung Slamet telah membuktikan bahwa rakyat Banyumas tidak pernah gentar berkorban demi tegaknya kemerdekaan Republik Indonesia.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow