News  

Kisah Gerilya Jalur Maut Banyumas: Dari Senjata Lebah Penyengat hingga Hujan Kanon di Cilongok

Monumen Poedjadi Djaring Bandajoeda. Foto: Arbi Anugrah
banner 120x600

BANYUMAS, MyInfo.ID – Terjalnya bentang alam Karesidenan Banyumas yang dikelilingi pegunungan dan tebing curam menjadi mimpi buruk bagi serdadu Belanda selama masa Agresi Militer. Bagi pasukan kolonial, jalur darat yang menghubungkan Purwokerto, Ajibarang, hingga perbatasan Bumiayu sejauh 40 kilometer bukan sekadar rute logistik biasa. Jalur itu dijuluki doden weg alias “jalan maut”, selevel dengan rute rawan penumpasan seperti Cirebon-Ciamis maupun Malang-Batu.

Sebagaimana diulas dalam buku Banyumas Membara Era Tahun 1945-1950, konvoi militer Belanda yang melintasi kawasan ini wajib dikawal ketat oleh puluhan truk bernomor lambung khusus, kendaran tempur lapis baja, hingga panser bren carrier. Namun, kewaspadaan itu kerap kali runtuh di tangan para gerilyawan TNI dan pejuang lokal yang menguasai tiap jengkal tebing.

Salah satu aksi penghadangan paling mendebarkan terjadi pada Jumat akhir September 1947 pukul 04.00 subuh. Satu regu Pasukan Pelajar IMAM di bawah pimpinan Sidharta bergerak menyusup dari markas mereka di Desa Gunung Lurah menuju tepi jalan raya Ajibarang-Purwokerto, tepatnya di wilayah Mindhik, Cilongok.

Sejarah Agresi Militer Belanda I di Banyumas: Taktik Bumi Hangus Purwokerto hingga Garis Van Mook

Sekitar pukul 09.00 WIB, deru konvoi truk Belanda beriringan dengan panser pengawal melintas. Sidharta sengaja membiarkan barisan panser depan lewat. Begitu truk paling belakang yang dikawal bren carrier tepat berada di bawah tebing pengintaian (stelling), hujan peluru mendadak dihujurkan dari jarak nyaris menempel, hanya 2 sampai 3 meter!

Truk seketika mogok. Serdadu Belanda yang panik mencoba melompat turun untuk membalas tembakan, namun langsung dihabisi satu per satu. Sebuah bren carrier yang berusaha mundur mengambil posisi bertempur justru hilang kendali dan terperosok masuk parit dalam. Delapan serdadu Belanda tewas di tempat sebelum bantuan dari pos Cilongok tiba, sementara Pasukan Pelajar IMAM berhasil mundur tanpa celah.

Aksi penghadangan serupa berkali-kali diulang di titik lain. Di wilayah Kesegeran, tiga truk konvoi disergap sekaligus di bawah komando Darjoen, memicu pertempuran sengit yang menewaskan 10 serdadu musuh.

Siasat Unik: Melumpuhkan Pengawal Kereta Api Pakai Sarang Lebah

Tak cuma jalan raya, jalur kereta api Purwokerto-Bumiayu juga menjadi medan tempur membara. Usai Perjanjian Renville, Belanda menempatkan pos-pos militer ketat di sepanjang rel, salah satunya di pabrik minyak kelapa Karanggandul.

Guna melumpuhkan dominasi musuh di atas rel, sebuah strategi cerdik dirancang oleh Komandan Kompi Poedjadi. Informasi krusial didapat dari Pak Koeswadi, seorang masinis asal Tumiyang yang pro-Republik. Pak Koeswadi membocorkan jadwal kereta pengangkut pasukan Belanda yang bakal melintasi kawasan Panembangan, Cilongok.

Malam sebelum eksekusi, prajurit TNI bersama warga gotong royong menutup akses jalan desa dengan tumpukan batu demi menghadang bantuan darat dari arah Karangsari dan Cilongok.

Sejarah Pertempuran Prompong 1947: Perlawanan Pasukan Pelajar IMAM di Lereng Gunung Slamet

Namun, kejutan utama disiapkan tepat di atas rel bawah jembatan. Batu-batu besar ditumpuk di tengah rel. Di dalam sela-sela gundukan batu itu, diselipkan beberapa karung berisi tawon baluh (lebah penyengat beracun) yang diambil oleh Bakri, warga Desa Langgongsari.

Keesokan harinya, sekitar pukul 09.00 WIB, kereta api melintas. Pak Koeswadi membunyikan suling kereta dengan kode khusus dari kejauhan untuk memberitahukan jumlah gerbong bernyawa pasukan musuh. Tepat di lokasi jebakan, kereta mendadak berhenti karena masinis mengodekan ada tumpukan batu yang dicurigai sebagai bom.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow