News  

Robotika untuk Lulusan SMK Kian Dibutuhkan, Kemendikdasmen Perkuat Kompetensi Vokasi

Robotika untuk Lulusan SMK Kian Dibutuhkan, Kemendikdasmen Perkuat Kompetensi Vokasi. Foto: Kemendikdasmen
banner 120x600

JAKARTA, MyInfo.ID – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus menyiapkan robotika untuk lulusan SMK sebagai salah satu kompetensi utama agar mampu bersaing di dunia kerja yang semakin terdigitalisasi. Langkah ini dilakukan dengan memperkuat kurikulum, meningkatkan kompetensi guru, hingga memperluas kolaborasi dengan dunia industri.

Direktur SMK Kemendikdasmen, Arie Wibowo, mengatakan kebutuhan tenaga kerja saat ini mulai bergeser seiring meningkatnya penggunaan teknologi otomatisasi di berbagai sektor industri.

“Robotika telah digunakan di berbagai sektor, mulai dari manufaktur, logistik, otomotif, makanan dan minuman, elektronik, hingga pergudangan. Kebutuhan tenaga kerja pun bergeser dari pekerjaan manual menuju pekerjaan yang menuntut kemampuan mengoperasikan, memelihara, hingga mengembangkan sistem otomatis,” ujar Arie dalam webinar Menciptakan Masa Depan: Robotika sebagai Peluang Karier bagi Murid SMK di Jakarta.

Menurut Arie, berbagai program keahlian di SMK sebenarnya telah menjadi fondasi kuat untuk memasuki industri robotika. Kompetensi tersebut meliputi Teknik Mekatronika, Teknik Elektronika Industri, Teknik Otomasi Industri, Teknik Pemesinan, Teknik Instalasi Tenaga Listrik, Rekayasa Perangkat Lunak (RPL), hingga Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ).

Namun, perkembangan teknologi membuat industri kini lebih membutuhkan tenaga kerja yang menguasai berbagai bidang sekaligus.

“Ini adalah era multi-skill. Kompetensi yang telah dimiliki SMK perlu semakin diperkuat agar selaras dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri,” katanya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Direktorat SMK terus menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan industri melalui peningkatan kualitas pembelajaran, penguatan kompetensi guru, pembaruan sarana praktik, serta perluasan program magang dan pembelajaran bersama praktisi industri robotika.

Meski demikian, Arie mengakui masih terdapat tantangan, seperti belum meratanya laboratorium robotika berstandar industri dan terbatasnya jumlah guru yang memiliki pengalaman praktik di bidang tersebut.

Meski begitu, ia optimistis kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan dunia usaha mampu mempercepat pengembangan pendidikan vokasi di Indonesia.

“Kami meyakini membangun ekosistem pendidikan vokasi bukan hanya sebuah program, melainkan gerakan bersama. SMK harus adaptif, industri harus kolaboratif, dan pemerintah harus memberikan dukungan. Robot tidak akan menggantikan seluruh pekerjaan manusia, tetapi justru menciptakan pekerjaan baru dengan nilai tambah yang lebih tinggi, seperti integrasi sistem, pemrograman, pemeliharaan robot, analisis data, hingga pengembangan solusi berbasis otomasi,” tutup Arie.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow