“Kami ingin mengenalkan, pengunjung atau partisipan yang mengunjungi Dieng Culture Festival itu juga bisa merasakan produk-produk kopi unggulannya Banjarnegara,” katanya.
Bank Indonesia selama ini turut melakukan pembinaan terhadap kelompok pelaku kopi di Banjarnegara.
Untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia, Festival Kopi Dieng juga menggelar kompetisi manual brew yang diikuti sekitar 12 peserta.
“Selain kita concern di pengembangan komoditas kopinya, kita juga concern ke pengembangan SDM-nya,” ujar Aswin.
Sebab, perjalanan kopi tidak berhenti ketika buah dipanen dari kebun. Ada petani yang merawat tanaman, pengolah yang menangani hasil panen, roaster yang menentukan tingkat sangrai, hingga barista yang menyajikan kopi kepada konsumen.
Setiap mata rantai membutuhkan keterampilan dan pengetahuan.
Potensi tersebut mulai menunjukkan hasil. Seorang barista asal Banjarnegara sebelumnya berhasil menembus tujuh besar dalam kompetisi barista tingkat nasional sekaligus meraih juara favorit kedua.
Di tengah dinginnya Dieng, Festival Kopi Dieng memperlihatkan bahwa secangkir kopi menyimpan cerita yang jauh lebih panjang.
Ada kerja petani, kreativitas pelaku usaha, keterampilan barista, potensi pariwisata, hingga peluang pasar yang terbuka ketika kopi dari berbagai daerah dipertemukan.















