“Banjarnegara kami ingin menjadi kabupaten konservasi. Kami membawa isu lingkungan, dan salah satunya melalui kopi,” kata Amalia.
Pengembangan tanaman kopi di kawasan pegunungan diharapkan dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga lingkungan. Dengan demikian, komoditas tersebut tidak hanya memberikan nilai tambah bagi masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari pendekatan pembangunan yang memperhatikan keberlanjutan.
Potensi kopi Banjarnegara semakin mendapat pengakuan setelah kopi arabika daerah tersebut meraih juara kedua tingkat nasional. Sementara kopi robusta Banjarnegara menempati peringkat ketiga tingkat nasional.
Capaian itu menunjukkan bahwa kopi yang dihasilkan dari lereng-lereng pegunungan Banjarnegara memiliki kualitas yang mampu bersaing di tingkat nasional.
Amalia juga menekankan pentingnya melihat Dieng sebagai satu kawasan yang dikembangkan secara bersama. Kawasan Dieng berada di wilayah administratif Banjarnegara dan Wonosobo, tetapi potensi ekonominya dapat dikembangkan secara terpadu.
“Lalu kemudian ketika bertanya, Dieng ini milik Wonosobo atau Banjarnegara, ini milik kita bersama,” ujarnya.
Membangun Industri dari Kebun hingga Barista
Pengembangan industri kopi tidak hanya bergantung pada kualitas biji. Sumber daya manusia yang mengelola setiap tahapan juga menjadi bagian penting.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto Aswin Gantina mengatakan pengembangan komoditas kopi perlu dilakukan secara menyeluruh, termasuk meningkatkan kapasitas para pelaku yang berada di sepanjang rantai usaha.















