“Akses pendidikan kesetaraan yang inklusif seperti ini sangat krusial agar tidak ada lagi generasi muda yang tertinggal dalam meraih masa depan mereka,” tambahnya.
Program PKBM Surya Muhammadiyah Banyumas juga mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten Banyumas.
Bupati Banyumas Drs. H. Sadewo Tri Lastiono, M.M., menilai keterlibatan organisasi masyarakat dalam memperluas layanan pendidikan dapat membantu pemerintah menangani persoalan anak putus sekolah sekaligus mendorong peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Pemerintah daerah, kata Sadewo, siap membangun sinergi dengan Muhammadiyah agar masyarakat Banyumas memiliki kesempatan pendidikan yang lebih luas.
“Pemerintah Kabupaten Banyumas sangat mengapresiasi langkah konkret Muhammadiyah. Kolaborasi melalui PKBM ini adalah bukti nyata bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Kami pastikan pemerintah daerah akan terus bersinergi agar seluruh warga Banyumas, tanpa terkecuali, mendapatkan hak pendidikannya,” kata Drs. H. Sadewo Tri Lastiono, M.M.
Dukungan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah dan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan berbagai unsur masyarakat.
Terlebih, kelompok anak tidak sekolah dan penyandang disabilitas membutuhkan pendekatan pendidikan yang sesuai dengan kondisi serta kebutuhan masing-masing.
Universitas Muhammadiyah Purwokerto menjadi lokasi pelaksanaan peluncuran MPLS PKBM Surya Muhammadiyah se-Kabupaten Banyumas.
Wakil Rektor III UMP Drs. Ikhsan Mujahid, M.Si., menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, penyelenggaraan pendidikan yang inklusif sejalan dengan semangat membangun akses pendidikan yang lebih luas.
“Kami menyampaikan selamat datang di UMP kepada seluruh tamu undangan. Kami sangat mengapresiasi dan mendoakan agar kegiatan MPLS PKBM Surya Muhammadiyah Banyumas pada pagi hari ini bisa berjalan dengan lancar dan sukses,” ujar Drs. Ikhsan Mujahid, M.Si.
Peluncuran kemudian ditandai dengan penyematan tanda peserta kepada perwakilan siswa. Penyematan juga diberikan kepada perwakilan peserta didik penyandang disabilitas.
Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang tersebut menjadi gambaran bahwa pendidikan kesetaraan dapat menjadi ruang belajar yang lebih terbuka.















