Ia menjelaskan, MAMAKU SIGAP merupakan inovasi sosial berbasis masyarakat yang mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi secara berkelanjutan.
Keberhasilan program ini tercermin dari tumbuhnya berbagai unit usaha berbasis multiple commodities dan multiple income dengan total omzet mencapai Rp366 juta per bulan. “Selain itu, lebih dari 1.500 rumah tangga terlibat aktif dalam pengelolaan dan pengembangan aspek sosial, ekonomi, serta lingkungan di kawasan pesisir Kutawaru,” kata Agustiawan.
Dari sisi keberlanjutan lingkungan, MAMAKU SIGAP mencatat berbagai capaian signifikan, di antaranya pengelolaan 7,6 ton sampah per tahun, penanaman mangrove seluas 8,5 hektare, pengembangan lebih dari 78 ribu bibit mangrove baik wellbag maupun non-wellbag, pengurangan emisi 5,46 ton CO2eq per tahun melalui pemanfaatan palet, serta pengurangan emisi 877 ton CO2eq per tahun melalui penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Steering Committee ISRA 2026, Miftah Faridl Widhagdha, mengatakan tema Catalyzing Collective Change for Scalable Impact menekankan pentingnya aksi kolektif lintas sektor dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan berkelanjutan melalui pengembangan solusi yang adaptif, kolaboratif, dan mudah direplikasi.
Penghargaan Platinum ISRA 2026 diharapkan semakin memotivasi Kilang Cilacap untuk terus menghadirkan program-program tanggung jawab sosial yang inovatif, berkelanjutan, serta memberikan nilai tambah bagi masyarakat, lingkungan, dan pencapaian target pembangunan berkelanjutan di Indonesia.















