BANYUMAS, MyInfo.Id – Sampur yang melilit pinggang, jamang di kepala, sampai foto-foto usang di atas meja pamer. Semua itu menyimpan cerita tentang Narsihati, penari yang lebih dari 55 tahun menghabiskan hidupnya untuk Lengger.
Benda-benda tersebut dipajang dalam pameran arsip DHAROHARA: Jejak-Jejak Ketubuhan Banyumasan di halaman belakang Taman Sari, Kota Lama Banyumas, Sabtu (24/10/2026). Pameran ini menjadi bagian dari program perdana Banyumas Adhigana Stage (BAS) bertajuk Ketubuhan Banyumasan.
Perempuan yang akrab disapa Biyung Narsih atau Mbok Narsih ini lahir dan besar di Desa Pegalongan, Banyumas. Ia mulai menari pada usia tujuh tahun lewat tradisi mbarang dan midhang, yaitu berkeliling dari desa ke desa untuk menghibur warga.
Dari jalanan itulah gayanya terbentuk. Di panggung, ia dikenal lincah dan ekspresif, termasuk dalam gerak sendhetan lumpatan. Suaranya yang khas Banyumasan juga mengiringi kepiawaiannya nyinden. Dialog spontan dan humornya membuat jarak dengan penonton nyaris hilang.
Bagi Narsih, Lengger juga lebih dari hiburan. Kesenian ini punya kaitan dengan kehidupan masyarakat agraris, salah satunya Ritus Baritan, yakni ritual yang memuat doa untuk keselamatan, kesuburan tanah, dan hasil panen yang baik.
Ia kini meneruskan ilmunya lewat Sanggar Ngudi Luwesing Salira, tempat anak muda belajar Lengger dan musik Calung Banyumasan. Pengabdiannya berbuah penghargaan Maestro Banyumas. Kisah hidupnya pun diangkat ke teater tari Memoar Lengger Narsih: Ritus Baritan dan film dokumenter URUP: Uriping Maestro Lengger Narsih.
Di pameran, perjalanan itu hadir lewat barang-barang pribadi sang maestro. Ada sampur atau selendang Lengger, sanggul tekuk, mekak, ilat-ilat, slebeg, kain batik, dan rok songket. Aksesorinya meliputi cunduk, sirkam, dan jamang. Foto masa muda, potret bersama kerabat, dokumentasi karya, hingga sesajen Lengger turut dipajang.
Busana dan aksesori itu pernah menyatu dengan tubuh Narsih saat menari, sementara foto dan dokumentasi merekam fase-fase hidupnya. Pengunjung juga bisa menikmati lukisan “Tubuh Lengger” karya Darmawan, seniman asal Purbalingga, yang dilukis langsung di lokasi untuk Kie Art Projects.
Para tamu didampingi langsung oleh Narsih. Penataan arsip dikerjakan Anjar Tri Laksana dari tim artistik BAS bersama Anisa Rakhma, pendamping sang maestro.
Penasihat BAS, Andy F. Noya, turut mengunjungi pameran bersama istri, Prof. Condro, Subarkah, serta sejumlah budayawan, seniman, dan akademisi dari wilayah Banyumasan.
Andy menyampaikan kebanggaannya terhadap sosok Biyung Narsih yang tidak hanya memiliki kemampuan menari, tetapi juga berupaya menjaga keberlanjutan Lengger.
“Biyung Narsih sudah menempuh perjalanan panjang dalam dunia Lengger. Melihat berbagai arsip yang dipajang di sini, saya merasa sangat bangga bahwa di wilayah Banyumas Raya kita memiliki figur seperti beliau. Tidak hanya mampu menari Lengger, tetapi juga mampu merawat Lengger,” ungkap Andy F. Noya.















