Selain mengangkat sosok maestro, Ketubuhan Banyumasan menjadi pijakan awal BAS membangun ruang temu bagi seniman di Banyumas Raya. Camat Banyumas sekaligus Pembina BAS, Jakarta Tisam, menyebut BAS dirancang untuk merangkul beragam pelaku, tidak terbatas pada satu wilayah atau cabang seni.
“Sejak awal dibentuk, Banyumas Adhigana Stage (BAS) berangkat dari sebuah gagasan yang membawa harapan besar bagi perkembangan seni dan budaya Banyumasan. Kami ingin membangun ruang yang tidak hanya menjangkau satu wilayah atau satu disiplin seni, tetapi mampu merangkul beragam potensi, pelaku, komunitas, dan praktik kebudayaan di seluruh Banyumas Raya,” kata Jakarta Tisam.
Menurutnya, gagasan itu tidak bisa diwujudkan secara instan. Perlu proses, konsistensi, komitmen, dan keterlibatan banyak pihak. “Karena itu, kami berharap BAS tidak hanya menjadi tempat untuk menampilkan karya, tetapi juga ruang untuk saling mengenal, bertukar pengetahuan, membangun kolaborasi, dan membuka kesempatan bagi tumbuhnya inisiatif-inisiatif kreatif baru,” ungkapnya.
Direktur BAS Slamet Santosa menambahkan, wadah ini lahir dari kebutuhan seniman akan tempat berkarya, bertukar pengetahuan, memperluas jejaring, dan berkolaborasi lintas disiplin.
Di program perdana ini, BAS melibatkan satu maestro dan tiga kelompok seni: Lengger Narsih, Sanggar Tari Panji Mas (Banyumas), Pemuda Kie Seni (Purbalingga), dan Renjana Art Dance (Cilacap). Karya mereka berbeda karakter, tetapi dikurasi agar saling terhubung.
Stage Manager BAS Adam Fauzi Guntar mengatakan alur pertunjukan disusun berdasarkan gagasan dan tujuan tiap kelompok.
“Setiap karya yang dipertunjukkan dalam Ketubuhan Banyumasan dikurasi dan disusun dengan mempertimbangkan maksud, gagasan, serta tujuan yang disampaikan dalam deskripsi karya masing-masing talenta,” kata Fauzi.
Menurutnya, seluruh karya tersebut tidak hanya dihadirkan sebagai pertunjukan yang berdiri sendiri, tetapi dirangkai sebagai bagian dari satu kesatuan artistik.
“Pada puncak pertunjukan, kolaborasi antarkarya memang dirancang untuk mempertegas semangat Rangkulan SAMARASA, sebuah pertemuan yang merangkul beragam ekspresi, pengalaman, dan karakter ketubuhan dalam satu ruang kebersamaan,” ungkap Fauzi.
Kolaborasi Rangkulan SAMARASA menutup rangkaian pertunjukan. Tiap kelompok tetap membawa identitasnya, tetapi bertemu dalam satu panggung bersama. BAS berharap pertemuan ini memperkuat jejaring seniman dari Banyumas, Purbalingga, Cilacap, hingga Banjarnegara.
Bagi Narsih sendiri, lebih dari lima dekade di dunia Lengger kini tak lagi sekadar kenangan pribadi. Lewat arsip dan pewarisan ilmu, perjalanannya menjadi bekal bagi generasi berikutnya untuk mengenal dan merawat tradisi Banyumasan.















