Di Balik Lahirnya Sumpah Pemuda 1928: Ketika Para Pemuda Lintas Suku Bersatu di Tiga Gedung

Ilustrasi Sumpah Pemuda. Foto: Magnific
banner 120x600

JAKARTA, MyInfo.ID – Tanggal 28 Oktober 1928, 98 tahun silam, ruang-ruang di Batavia (Jakarta) bergemuruh oleh semangat persatuan. Dilansir dari laman Kementerian Kebudayaan, lewat Kongres Pemuda Kedua yang digagas Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), para pemuda dari pelbagai latar belakang suku, agama, dan daerah menepis sekat primordialisme untuk merumuskan satu ikrar kebangsaan yang kelak dikenal sebagai Sumpah Pemuda.

Jauh sebelum hari ikrar itu dikumandangkan, panitia telah menggelar serangkaian rapat persiapan sejak Mei dan Agustus 1928. Dengan kepengurusan lintas organisasi diketuai Sugondo Djojopuspito (PPPI) didampingi R.M. Djoko Marsaid (Jong Java) sebagai wakil, Mohammad Yamin (Jong Sumatranen Bond) sebagai sekretaris, Amir Sjarifudin (Jong Bataks Bond) selaku bendahara, serta deretan pembantu dari Jong Islamieten Bond, Pemoeda Indonesia, Jong Celebes, Jong Ambon, hingga Pemoeda Kaoem Betawi, agenda besar ini dirancang matang.

Pembiayaan kongres pun murni ditopang iuran antarorganisasi dan sumbangan sukarela. Pertemuan akbar tersebut akhirnya dihelat di tiga lokasi berbeda di Jakarta.

Tiga Arena, Tiga Perjuangan

1. Rapat Pertama di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (KJB)

Malam Sabtu, 27 Oktober 1928, Ketua Kongres Sugondo Djojopuspito membuka sidang dengan pesan yang membakar semangat: “Perceraiberaian itu wajiblah diperangi, agar kita bisa bersatu.”

Sidang dilanjutkan dengan pemaparan Mohammad Yamin mengenai lima pilar penguat persatuan Indonesia: sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.

2. Rapat Kedua di Gedung Oost-Java Bioscoop

Pagi Minggu, 28 Oktober 1928, fokus sidang beralih ke sektor pendidikan. Dua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, sepakat bahwa anak-anak Indonesia wajib menerima pendidikan kebangsaan yang demokratis, dengan porsi keseimbangan yang selaras antara didikan di sekolah dan rumah. “Kita harus membuang jauh-jauh itu tabiat mempermanja anak-anak kita,” tegas Poernomowoelan.

3. Rapat Ketiga di Gedung Indonesische Clubgebouw (Kramat No. 106)

Sore harinya, sesi terakhir mengupas nasionalisme dan gerakan kepanduan (pandu). Soenario dan Ramelan menekankan pentingnya disiplin dan kemandirian sejak dini. Sementara Theo Pangemanan menegaskan bahwa kepanduan sejati wajib berlandaskan cinta tanah air: “Pramuka tanpa semangat kebangsaan bukanlah Pramuka…”

Alun Biola W.R. Soepratman dan Lahirnya Ikrar Abadi

Menjelang penutupan kongres, suasana mendadak magis saat Wage Rudolf Soepratman memperdengarkan lagu ciptaannya, Indonesia Raya, melalui gesekan biolanya. Sambutan antusiasme peserta menggemuruh di ruangan.

Sidang kemudian ditutup dengan pembacaan draf putusan resmi hasil rumusan Mohammad Yamin yang dibacakan oleh Sugondo Djojopuspito. Kerapatan pemuda menyepakati tiga butir keputusan mendasar yang wajib menjadi azas perkumpulan kebangsaan:

PERTAMA:

KAMI PUTERA DAN PUTRI INDONESIA, MENGAKU BERTUMPAH DARAH YANG SATU, TANAH INDONESIA.

KEDUA:

KAMI PUTRA DAN PUTRI INDONESIA, MENGAKU BERBANGSA YANG SATU, BANGSA INDONESIA.

KETIGA:

KAMI PUTRA DAN PUTRI INDONESIA, MENJUNJUNG BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA.

Keputusan bersejarah ini tidak hanya mendesak agar disebarluaskan lewat surat kabar, tetapi juga menegaskan bahwa bangunan persatuan bangsa harus ditopang oleh kemauan, sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, serta kepanduan.

Istilah Sumpah Pemuda pun melekat abadi sebagai pedoman moral bagi generasi bangsa: untuk senantiasa mencintai tanah air, merawat rajutan persatuan, dan membanggakan bahasa Indonesia dalam denyut kehidupan sehari-hari.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow