Kisah Desa Durian di Banyumas, Limbah yang Dulu Meluapkan Sungai Disulap Jadi Cuan

Warga Desa Alasmalang, Banyumas, menunjukkan produk olahan kulit durian. Foto: Arbi Anugrah/MyInfo
banner 120x600

BANYUMAS, MyInfo.ID – Manis dan aroma buah durian biasanya hanya menyisakan kenikmatan di lidah. Namun, di balik legitnya daging buah durian varietas Bawor yang terkenal di Desa Alasmalang, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas, tersimpan sebuah persoalan klasik yang pelik, yakni tumpukan kulit berduri tajam.

Musim panen raya yang melimpah kerap kali mengubah desa ini menjadi lautan limbah organik. Dulu, kulit-kulit tersebut dibiarkan membusuk dan menggunung di lapak-lapak pedagang, bahkan kulit durian kerap dibuang sembarangan ke sungai, hingga memicu genangan banjir yang merendam ratusan rumah warga.

Kini, cerita itu berbalik di desa yang dikenal sebagai sentra durian Bawor ini. Lewat tangan warganya yang bersinergi dengan akademisi dan korporasi, duri-duri tajam yang kerap melukai kaki itu pun disulap menjadi pundi-pundi rupiah. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) bertajuk Satria Diraja (Sentra Inovasi Agribusiness Durian Berkelanjutan) dari PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Maos, Desa Alasmalang bertransformasi menjadi laboratorium inovasi pengolahan limbah mandiri.

Kepala Desa Alasmalang, Katam, menuturkan jika persoalan limbah kulit durian ini bermula dari kebiasaan yang tampak sepele. Saat panen raya, kulit durian menumpuk dan sebagian dibuang begitu saja ke sungai. Alasmalang yang dilintasi tiga aliran sungai kecil, yaitu Klanceng 1, 2, dan 3 kerap meluap akibat tumpukan kulit durian yang menyumbat aliran air dari desa tetangga, hingga meluap ke permukiman.

“Dulu kalau panen raya, kulit durian menumpuk di mana-mana, berserakan di pinggir jalan sampai dibuang ke selokan. Akibatnya, aliran air tersumbat dan sekitar 200 kepala keluarga kebanjiran. Sebagai kepala desa, tentu saya harus mencari solusi,” kenang Katam saat berbincang beberapa waktu lalu.

Solusi tersebut mulai menemukan titik terang pada 2024, saat pemerintah desa menginisiasi program Kampung Iklim (Proklim) berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas, Tujuannya adalah untuk mengatasi limbah kulit durian yang kerap dibuang warga ke sungai dan membuat banjir saat musim penghujan.

Dari situ lahir gagasan membangun embung seluas dua hektare untuk menampung air dan meredam genangan. Total lahan di lokasi mencapai lima hektare. Tiga hektare sisanya disiapkan sebagai agrowisata edukasi, tempat yang saat ini digunakan warga dan pengunjung untuk belajar langsung soal pengolahan limbah.

Selain mengatasi limbah kulit durian, pihaknya juga bekerjasama dengan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto. Langkah awal dimulai dari penyelamatan buah durian kualitas grade C atau buah prematur yang jatuh sebelum waktunya. Alih-alih dibuang busuk, buah yang rasanya kurang enak, bahkan nyaris tak bernilai tersebut diolah oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) menjadi produk olahan yang bernilai tinggi seperti dodol dan cireng.

Buah durian kualitas grade C atau buah prematur yang jatuh sebelum waktunya, oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) diolah menjadi dodol dan cireng. Foto: Arbi Anugrah/MyInfo

“Kalau durian grade A itu super dan langsung laku dijual. Tapi yang grade C atau jatuh prematur rasanya kurang enak, daripada dibuang, kita olah jadi dodol. Grade C yang tadinya dihargai murah atau tidak laku Rp10.000, setelah jadi cireng bisa bernilai jual hingga Rp80.000 per kilogram,” jelas Katam.

Tidak berhenti pada daging buahnya, warga Desa Alasmalang mulai menyasar pada persoalan yang lebih besar, yakni kulit dan biji durian. Dengan pendampingan peneliti Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), mereka mengetahui jika kulit yang sudah membusuk mengandung unsur hara yang berguna sebagai bahan pupuk organik.

Di mana kulit durian di Alasmalang kini dipilah menurut kondisinya, seperti kulit yang sudah busuk dijadikan pupuk atau pakan cacing. Bumdes mengelola budi daya cacing itu, dan kotoran cacing dipakai sebagai media tanam. Lalu pada bagian dalam kulit yang masih segar dan berwarna putih diolah menjadi tepung untuk bahan makanan, serta keripik kulit durian.

Sementara pada bagian luar yang keras dicacah dengan mesin menjadi serat halus. Serat ini dipakai sebagai isian boneka dan bantal, gantungan kunci, hingga bahan penyerap tumpahan minyak (oil absorbent). Sedangkan biji durian yang tidak disemai juga diolah, misalnya menjadi cireng.

Warga bahkan mengolah bunga durian menjadi soto dan keripik. Seluruh rangkaian produk itu dikerjakan sekitar 30 orang dari beberapa kelompok dari Pokdarwis, Kelompok Wanita Tani (KWT), Karang Taruna, dan Bumdes, dengan bank sampah yang bertugas mengumpulkan kulit durian.

“Tidak terbuang, semuanya tidak terbuang,” kata Katam.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow