Salah satu produk khas desa ini adalah boneka dan gantungan kunci berbahan serat kulit durian bernama Durikon, kependekan dari Durian Icon. Setiap hari Minggu, para pengelola menjualnya kepada pengunjung yang bersantai di embung.
Bagi para ibu rumah tangga yang terlibat, perubahan ini terasa sampai ke meja makan. Ulfa Tulis Tirokhah dari KWT Sari Makmur Alasmalang mengatakan pelatihan yang diberikan membuat warga tidak lagi memandang kulit durian sebagai beban. Menurutnya, hampir seluruh bagian tanaman durian, mulai dari buah, kulit, biji, hingga bagian kelopak bunga dapat diolah menyerupai keripik jamur.
“Banyak sekali limbah yang bisa kita olah menjadi rupiah. Kami dari perempuan-perempuan Desa Alasmalang bisa mempunyai penghasilan tambahan untuk menambah perekonomian keluarga, bisa untuk memajukan desa Alasmalang, Alasmalang bebas dari lembah kulit durian,” ungkap Ulfa Tulis Tirokhah.
Hal senada juga diungkapkan oleh Roniyah, Ketua Pokdarwis Berkah Durian, di mana dampak ekonomi dari ekosistem pengolahan limbah ini dirasakan langsung oleh kaum hawa di Alasmalang. Ia menuturkan jika kehadiran program pendampingan ini mengubah total taraf hidup para ibu rumah tangga di desanya.
“Program dari Pertamina ini menjadi solusi luar biasa atas masalah limbah yang dulunya sangat melelahkan dan menyiksa saat terinjak kaki. Nilai ekonomisnya luar biasa bagi kami para ibu,” tutur Roniyah sembari tersenyum.
Community Development Officer PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Maos, Zukhruf Arifin, mengatakan jika pendampingan di Desa Alasmalang dari PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Maos, masuk dalam program Satria Diraja. Program ini memang dirancang untuk menuntaskan problem lingkungan, sekaligus menggenjot kesejahteraan ekonomi masyarakat.
“Tujuan utamanya jelas dari segi lingkungan, yakni menuntaskan limbah kulit durian yang tadinya dibuang ke sungai atau dibakar. Kedua, mendongkrak taraf ekonomi masyarakat. Alhamdulillah, hari ini tujuan itu tercapai,” ujar Community Development Officer PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Maos, Zukhruf Arifin.
Menurut Zukhruf, limbah kulit durian yang dulu dibuang ke sungai atau dibakar kini sudah menjadi produk bernilai ekonomi.
Zukhruf menjelaskan, berdasarkan uji laboratorium bersama Unsoed, limbah kulit durian di Alasmalang kini diklasifikasikan ke dalam beberapa tingkatan kualitas. Kulit bagian luar yang keras dan berserat dicacah menggunakan mesin ekstraktor bantuan Pertamina untuk diubah menjadi serat halus. Serat inilah yang diaplikasikan sebagai bahan baku isian bantal, boneka, souvenir gantungan kunci berikon “Durikon” (Durian Icon), hingga oil absorbent (penyerap minyak).
Hebatnya lagi, inovasi ini merambah ke sektor yang bersinggungan dengan keselamatan. Melalui riset ketat, serat kulit durian dapat diolah menjadi tepung subtitusi untuk Dry Chemical Powder (DCP) APAR (Alat Pemadam Api Ringan).
“Tepung DCP kimia murni itu harganya sangat mahal, bisa jutaan rupiah per 25 kilogram. Ternyata, tepung kimia itu bisa digantikan sebagian 30 persen dari tepung kulit durian, dan kelebihannya, tepung tersebut itu sama-sama efektif memadamkan api. Bahkan standarnya sudah diuji oleh tim Unsoed dan memenuhi kriteria ISO,” ungkap Zukhruf.
Tidak hanya itu, serat kulit durian terbukti sangat efektif diuji sebagai oil absorbent di area Fuel Terminal Maos. Daya serapnya terhadap tumpukan ceceran minyak terbukti jauh lebih unggul dan efektif dibandingkan kain lap konvensional. Sementara itu, sisa limbah organik yang telah membusuk diolah kembali menjadi pupuk organik cair kaya unsur hara mirip NPK, serta dimanfaatkan sebagai media budidaya cacing di bawah pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Kini, di atas lahan seluas 5 hektar yang mencakup area agrowisata edukasi dan pembangunan embung seluas 2 hektar. Dan dari hamparan duri yang menyakitkan, warga Desa Alasmalang membuktikan bahwa limbah terburuk sekalipun dapat diubah menjadi bahan baku keberlanjutan yang memiliki nilai ekonomi dan kelestarian lingkungan.















