Jakarta Understanding juga membawa gagasan religious diplomacy atau diplomasi keagamaan. Pendekatan ini menempatkan nilai spiritual dan moral sebagai bagian dari upaya membuka dialog serta membangun kepercayaan di tengah konflik dan ketegangan global.
Para imam dan pemimpin agama dinilai memiliki ruang sosial untuk menyampaikan pesan perdamaian yang melampaui batas negara, budaya, etnis, maupun kelompok.
Bagi Prof. Ridwan, IGIC 2026 menjadi ruang penting untuk mempertemukan otoritas keagamaan dari berbagai latar belakang. Pertemuan tersebut sekaligus membuka peluang terbentuknya jejaring spiritual global yang memiliki komitmen terhadap perdamaian.
“Imam bukan hanya pemimpin ritual, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial untuk membangun kesadaran umat, merawat kerukunan, mempertemukan berbagai perbedaan, dan menghadirkan nilai-nilai agama sebagai energi positif bagi kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Prof. Ridwan berharap Jakarta Understanding tidak berhenti sebagai hasil kesepahaman dalam sebuah konferensi internasional. Gagasan yang lahir dari forum tersebut perlu diterjemahkan menjadi aksi nyata melalui masjid dan jejaring imam di berbagai negara.
IGIC 2026 dengan demikian membawa pesan bahwa masjid memiliki potensi menjadi salah satu ruang strategis dalam membangun perdamaian. Sementara imam dapat berperan menghubungkan nilai spiritual dengan persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.
Jakarta Understanding menjadi salah satu landasan untuk memperkuat peran tersebut, dari masjid sebagai ruang ibadah menuju ruang kemanusiaan, serta dari kepemimpinan ritual menuju kepemimpinan sosial yang berkontribusi pada harmoni dan perdamaian global.















