Pandangan Islam soal Kebiasaan Membandingkan Anak, Bisa Melukai Kepercayaan Diri

Ilustrasi Anak Aktif Belajar dan Bermain. Foto: Kemendikdasmen
banner 120x600

SETIAP anak memiliki kemampuan dan proses tumbuh kembang yang berbeda. Karena itu, menjadikan prestasi anak lain sebagai tolok ukur keberhasilan anak sendiri justru dapat melukai perasaan dan kepercayaan dirinya.

Keluarga seharusnya menjadi tempat pertama anak merasa diterima, dihargai, dan mendapatkan dukungan. Namun, kebiasaan membandingkan masih kerap dilakukan sebagian orang tua melalui kalimat seperti, “Kenapa kamu tidak sepintar temanmu?” atau “Lihat anak tetangga, selalu juara kelas.”

Ucapan tersebut mungkin dimaksudkan untuk memotivasi. Akan tetapi, anak bisa menangkapnya sebagai bentuk ketidakpuasan orang tua terhadap dirinya.

Kebiasaan Membandingkan Bisa Mengikis Kepercayaan Diri Anak

Dalam psikologi anak, pola asuh yang kerap membandingkan dapat memengaruhi harga diri. Anak berisiko merasa dirinya tidak cukup baik, takut melakukan kesalahan, hingga terus mencari pengakuan dari orang lain.

Dilansir dari NU Online, kajian Faradilla Kurnia Ersami dan Muhammad Aditya Wisnu Wardana berjudul Pengaruh Toxic Parenting bagi Kesehatan Mental Anak: Literature Review (2023, hlm. 330) membahas hubungan pola asuh tidak sehat dengan risiko masalah psikologis pada anak.

Dampaknya dapat terbawa hingga dewasa dan memengaruhi cara seseorang membangun hubungan dengan keluarganya kelak. Meski demikian, hal tersebut tidak otomatis dialami setiap anak karena perkembangan psikologis juga dipengaruhi pola asuh, lingkungan, dan dukungan emosional.

Lantas, bagaimana Islam mengingatkan orang tua agar tidak menjadikan kelebihan anak lain sebagai ukuran bagi anak sendiri?

Pandangan Islam tentang Kebiasaan Membandingkan

Islam mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki karunia dan bagian rezeki masing-masing. Orang tua perlu memahami prinsip ini ketika mendidik anak, termasuk tidak merendahkan kemampuan anak hanya karena melihat keberhasilan orang lain.

Allah SWT berfirman dalam QS An-Nisa ayat 32:

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ ۗ لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوْا ۗ وَلِلنِّسَاۤءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۗ وَسْـَٔلُوا اللّٰهَ مِنْ فَضْلِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا

Artinya:

“Janganlah kamu berangan-angan (iri hati) terhadap apa yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Imam Fakhruddin ar-Razi dalam Mafatihul Ghaib menjelaskan bahwa melihat berbagai kelebihan yang dimiliki orang lain, sementara diri sendiri merasa tidak memilikinya, dapat menimbulkan kesedihan dan mengganggu pikiran.

Beliau menuliskan:

المسألة الثالثة: أَنَّ الْإِنْسَانَ إِذَا شَاهَدَ أَنْوَاعَ الْفَضَائِلِ حَاصِلَةً لِإِنْسَانٍ، وَوَجَدَ نَفْسَهُ خَالِيًا عَنْ جُمْلَتِهَا أَوْ عَنْ أَكْثَرِهَا، فَحِينَئِذٍ يَتَأَلَّمُ قَلْبُهُ وَيَتَشَوَّشُ خَاطِرُهُ.

Artinya:

“Masalah Ketiga: Bahwasanya manusia, apabila menyaksikan berbagai jenis keutamaan/kelebihan diraih oleh orang lain, sedangkan ia mendapati dirinya hampa/kosong dari seluruhnya atau dari sebagian besarnya, maka pada saat itulah hatinya merasa sakit dan pikirannya menjadi terganggu.”

(Mafatihul Ghaib, Beirut, Daru Ihya’it Turats Arabi: 1420 H, jilid X, hlm. 65).

Penjelasan tersebut mengingatkan bahwa terlalu berfokus pada kelebihan orang lain dapat membuat seseorang lupa mensyukuri apa yang dimilikinya.

Dalam pengasuhan, orang tua bisa terjebak mengagumi pencapaian anak lain hingga tidak lagi melihat kemampuan dan perkembangan anak sendiri.

Memang, QS An-Nisa ayat 32 tidak secara khusus membahas larangan membandingkan anak. Namun, pesan tentang karunia dan larangan berangan-angan atas kelebihan orang lain dapat menjadi pengingat agar orang tua tidak meremehkan potensi anaknya.

Bimbing Anak Tanpa Merendahkan

Tidak membandingkan bukan berarti orang tua harus membiarkan anak tumbuh tanpa arahan. Anak tetap membutuhkan aturan, nasihat, dan dorongan untuk memperbaiki diri.

Namun, motivasi dapat diberikan tanpa menjadikan orang lain sebagai pembanding. Daripada berkata, “Mengapa kamu tidak sehebat temanmu?”, orang tua bisa mengajak anak berdiskusi, “Apa yang bisa kita perbaiki bersama?”

Apresiasi juga sebaiknya tidak hanya diberikan ketika anak meraih juara. Usaha, kejujuran, keberanian mencoba, dan kemauan belajar merupakan bagian penting dari proses tumbuh kembangnya.

Setiap anak pun memiliki keunggulan yang berbeda. Ada yang menonjol dalam pelajaran, sementara lainnya memiliki kemampuan di bidang seni, olahraga, keterampilan sosial, atau kepedulian terhadap sesama.

Tugas orang tua bukan membuat semua anak memiliki kemampuan yang sama, melainkan mengenali dan membantu mengembangkan potensi masing-masing.

Pada akhirnya, anak membutuhkan orang tua yang mampu menerima kekurangan sekaligus menghargai kelebihannya. Keberhasilan mengasuh tidak semata-mata diukur dari prestasi akademik atau perbandingan dengan anak lain, tetapi juga dari tumbuhnya kepercayaan diri, akhlak baik, dan kemampuan menghargai diri sendiri maupun orang lain.

Syukuri kelebihan anak dan dampingi kekurangannya. Jangan jadikan anak orang lain sebagai ukuran harga diri anak sendiri.

Wallahu a‘lam.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow