News  

Kasus Investasi Bodong Terus Bergulir, Suami Tersangka Menghilang?

Salah satu aset yang diduga merupakan milik tersangka investasi bodong. Foto: Istimewa
banner 120x600

PURWOKERTO, MyInfo.ID – Ditengah pengusutan kasus penipuan yang menjerat Ratu investasi bodong, Nurma Handikasari (36) oleh Polresta Banyumas, sebuah fakta baru menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Beredar informasi, suami tersangka, Trio Afrianto, menghilang dan tidak diketahui keberadaannya sejak Nurma resmi mendekam di sel tahanan Polresta Banyumas.

Hilangnya Trio memicu spekulasi mengenai keterlibatannya dalam operasional bisnis “tipu-tipu” sang istri, mengingat aset-aset mewah yang mereka miliki terdaftar atas nama keluarga dan kerabat terdekat.

Seperti diketahui, penyidik saat ini tengah memeriksa rekening anggota keluarga dan pihak lain yang berafiliasi dengan tersangka untuk menelusuri aliran dana. Namun, hilangnya sosok suami ini menambah lapisan misteri dalam drama kejatuhan imperium Cafe Tuas yang dibangun di atas air mata ratusan pensiunan.

Selama ini, warga mengenal Nurma alias Dika sebagai pengusaha sukses yang mengelola Cafe Kedai Tuas (Es Teler Tudung Asri) di jalur strategis Kecamatan Jatilawang. Bangunan yang megah dengan konsep casual dining modern tersebut terintegrasi dengan layanan wedding organizer (WO) dan katering. Namun, kemewahan itu bersumber dari penipuan sistematis terhadap masyarakat lanjut usia.

Nurma diduga menggunakan dana setoran para korban untuk membangun sejumlah aset properti, termasuk gedung cafe dan rumah mewah. Polisi telah bergerak cepat berkoordinasi dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk memblokir aset-aset tidak bergerak milik tersangka agar tidak dipindahtangankan selama proses hukum berlangsung.

Kelihaian sang Ratu Investasi Bodong dalam menipu tidak hanya menyasar investor luar, tetapi juga karyawannya sendiri. Ia diduga memanipulasi lima orang karyawan cafe untuk membantu tindak pidananya. Para karyawan ini mengaku bahwa rekening pribadi mereka dipinjam oleh Nurma untuk lalu lintas transaksi keuangan dalam nilai yang sangat besar.

Secara teknis, bisnis kotor yang dijalankan Nurma adalah skema ponzi atau money game. Sistem ini tidak memiliki roda bisnis atau aset produktif yang nyata, keuntungan besar yang dibagikan kepada investor lama murni berasal dari uang setoran anggota baru. Padahal, secara matematis, money game ini akan mengalami “gagal sistem” ketika arus kas masuk dari anggota baru lebih kecil daripada beban keuntungan yang harus dibayar.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow