“Kami datang untuk melihat upaya peningkatan ketahanan pangan. Kami melihat sendiri lahan tidur di sini disulap Pak Agus dan jajaran menjadi lahan produktif. Ini luar biasa dan layak diapresiasi,” puji Titiek.
Menurut Titiek, keberhasilan di Nusakambangan ini menjadi tamparan positif bagi wilayah lain. Jika pulau penjara dengan segala keterbatasannya mampu mandiri pangan, konsep serupa seharusnya sangat bisa diduplikasi di berbagai daerah di Indonesia.
“Nusakambangan saja bisa seperti ini, apalagi tempat-tempat lain. Kita harus punya kemauan, dikaruniai Tuhan tanah yg begitu subur, kita manfaatkan sebaik-baiknya,” imbuh politisi senior tersebut.
Modalkankan Keterampilan dan Premi untuk Masa Depan Napi
Namun, proyek ini bukan sekadar soal cetak rekor panen. Esensi terbesar dari program ini adalah memanusiakan manusia lewat bekal keterampilan hidup (life skill).
Melalui sentuhan langsung pada sektor pertanian, perikanan, dan peternakan, para narapidana mendapatkan bekal nyata yang bisa mereka gunakan untuk memulai hidup baru setelah masa hukuman mereka selesai.
Lebih dari itu, keringat para warga binaan ini tetap dihargai secara profesional. Mereka menerima premi atau upah dari hasil penjualan komoditas. Uang tersebut sengaja ditabung sebagai modal awal bagi mereka untuk membuka usaha mandiri ketika nanti kembali ke pelukan masyarakat.
Menteri Agus Andrianto menegaskan bahwa pihaknya tidak akan berhenti di sini. Evaluasi berkala akan terus dilakukan agar skala produksi dan kualitas pembinaan di Nusakambangan semakin optimal.















