“Pertamina memberikan dukungan yang luar biasa. Kehadiran Pertamina membuka lebih banyak kesempatan, menumbuhkan harapan, sekaligus membangun kepercayaan bahwa setiap orang memiliki peluang yang sama untuk berkembang. Kami berharap keterampilan membuat bio leather ini dapat menjadi bekal usaha berkelanjutan sehingga mampu meningkatkan perekonomian para peserta,” tuturnya.
Selama pelatihan, peserta dibimbing langsung oleh Ketua Yayasan Dipa Mandiri Nusantara, Sugeng Paijo.
Tahap demi tahap diperagakan secara rinci, mulai dari proses pengolahan kulit pisang hingga menjadi lembaran bio leather yang nantinya dapat dikreasikan menjadi berbagai produk bernilai jual, seperti gantungan kunci, aksesori, maupun kerajinan lainnya.
Bagi para peserta, hasil akhir bukan sekadar selembar material ramah lingkungan. Lebih dari itu, bio leather menjadi simbol bahwa kreativitas dapat lahir dari sesuatu yang selama ini dianggap tidak berguna, sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan tidak pernah membatasi kemampuan untuk berkarya.
Melalui Program Diskara, Kilang Pertamina RU Cilacap terus memperkuat komitmennya menghadirkan program tanggung jawab sosial yang berorientasi pada pemberdayaan.
Ketika inovasi, kepedulian terhadap lingkungan, dan semangat inklusivitas dipadukan, ruang bagi penyandang disabilitas untuk tumbuh dan mandiri pun semakin terbuka.
Di akhir pelatihan, yang tertinggal bukan hanya lembaran bio leather hasil karya peserta, melainkan juga keyakinan bahwa dari limbah sederhana seperti kulit pisang, dapat tumbuh harapan baru bagi masa depan yang lebih inklusif.















