Namun, pelatihan ini sesungguhnya tidak hanya mengajarkan teknik mengolah kulit pisang. Di balik setiap lembar bio leather yang dihasilkan, tumbuh rasa percaya diri bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berkarya dan mandiri.
Area Manager Communication, Relations & CSR Kilang Pertamina RU Cilacap, Agustiawan, mengaku justru memperoleh pelajaran berharga dari antusiasme para peserta.
“Kami yang justru banyak belajar dari semangat bapak ibu yang luar biasa. Dengan segala kelebihan yang dianugerahkan Tuhan, tidak menghalangi semangat untuk terus meningkatkan keterampilan,” ujarnya.
Menurut Agustiawan, pemanfaatan kulit pisang menjadi bio leather juga mencerminkan kepedulian terhadap lingkungan. Limbah yang selama ini dianggap tidak memiliki nilai dapat diolah menjadi produk yang bernilai ekonomi sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat.
“Ini sejalan dengan semangat kami untuk tidak hanya menjadi perusahaan energi, tetapi juga menyebarluaskan energi positif bagi masyarakat seluas-luasnya, termasuk kelompok disabilitas,” katanya.
Bagi Yayasan Dipa Mandiri Nusantara, kolaborasi dengan Kilang Pertamina RU Cilacap menghadirkan dampak yang lebih luas daripada sekadar pelatihan keterampilan. Dukungan yang diberikan dinilai mampu membangun optimisme sekaligus membuka jalan bagi penyandang disabilitas untuk lebih mandiri secara ekonomi.
Pembina Yayasan Dipa Mandiri Nusantara, Kania Kendarsyah, mengatakan konsistensi dukungan Pertamina telah memberikan motivasi baru bagi para peserta.















