Proses pembuatan instalasi ini berlangsung selama kurang lebih delapan bulan, dimulai sejak Agustus 2025. Seluruh elemen sekolah, mulai dari siswa, guru, orang tua, alumni, hingga manajemen, terlibat aktif dalam setiap tahapan, dari perencanaan hingga pemasangan.
Puncaknya, ribuan payung tersebut dipasang secara gotong royong pada April 2026, mencerminkan semangat kolaborasi yang menjadi ciri khas lingkungan pendidikan di sekolah tersebut.
Pemilihan payung sebagai media juga memiliki makna filosofis. Payung melambangkan naungan dan perlindungan, menggambarkan sekolah sebagai ruang aman bagi setiap anak untuk belajar, tumbuh, dan berkembang tanpa diskriminasi.
Perayaan ini turut dihadiri sejumlah tokoh penting, termasuk Ye Su selaku Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok, serta perwakilan pemerintah dan jaringan sekolah tiga bahasa dari berbagai daerah di Indonesia.
Selain peresmian instalasi, rangkaian kegiatan juga diisi dengan seminar nasional, diskusi pendidikan, hingga peluncuran pusat ujian Bahasa Mandarin berbasis komputer. Para tamu undangan juga diajak menyaksikan berbagai inovasi karya siswa, di antaranya alat pendeteksi kematangan alpukat dan becak hybrid berbasis kecerdasan buatan.
Momentum peringatan 20 tahun ini tidak hanya menjadi ajang refleksi perjalanan sekolah, tetapi juga penegasan komitmen terhadap pendidikan yang inklusif dan adaptif. Melalui instalasi ribuan payung tersebut, tersampaikan pesan kuat bahwa keberagaman merupakan kekuatan yang harus dirawat dan dirayakan bersama.















