Ia juga mengapresiasi keterlibatan keluarga besar trah Adipati Tjakra Sewaja yang selama ini dinilai ikut menjaga kesinambungan sejarah Kabupaten Cilacap.
Menurut Annisa, sinergi antara pemerintah daerah, keturunan para pemimpin terdahulu, dan masyarakat menjadi modal penting dalam melestarikan warisan budaya.
Juru Bicara Majelis Luhur Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Indonesia (MLKI), Muslam Guno Waseso, menjelaskan bahwa masyarakat Jawa sejak dahulu memandang pusaka bukan hanya sebagai benda bersejarah.
Di balik setiap pusaka tersimpan nilai kehidupan, etika, hingga perjalanan peradaban yang diwariskan oleh leluhur.
“Cilacap berada di ujung Pulau Jawa. Karena itu, masyarakatnya diajarkan untuk selalu menjaga perilaku, ucapan, dan tindakan. Jamasan menjadi pengingat agar manusia tidak hanya merawat pusaka, tetapi juga membersihkan hati, menjaga lingkungan, dan menghormati warisan leluhur,” katanya.
Usai malam tirakatan, prosesi dilanjutkan dengan jamasan terhadap berbagai peninggalan budaya yang berada di lingkungan Pendopo Wijayakusuma Cakti.
Objek yang dijamas tidak hanya wesi aji atau tosan aji, tetapi juga pendopo, seperangkat gamelan, sumur, dapur, hingga kamar utama yang dahulu digunakan Bupati Cilacap.
Seluruh prosesi berlangsung dengan khidmat sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan sejarah yang masih dijaga hingga saat ini.
Tradisi jamasan yang rutin dilaksanakan setiap Bulan Suro menjadi salah satu bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten Cilacap bersama MLKI dan masyarakat dalam menjaga warisan budaya.
Melalui kegiatan tersebut, pelestarian tidak hanya difokuskan pada kondisi fisik benda pusaka, tetapi juga pada nilai-nilai sejarah, filosofi, dan memori kolektif yang melekat di dalamnya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.















