News  

APAC Annual Meeting 2026 di Bali, Akreditasi Jadi Kunci Hadapi Persaingan Global

APAC Annual Meeting 2026 di Bali, Akreditasi Jadi Kunci Hadapi Persaingan Global. Foto: BSN
banner 120x600

BALI, MyInfo.ID – Persaingan perdagangan internasional kini tidak lagi sekadar ditentukan oleh kualitas dan harga produk. Dunia usaha juga dituntut memenuhi berbagai standar baru, mulai dari keamanan produk, ketertelusuran rantai pasok, hingga aspek keberlanjutan lingkungan.

Di tengah perubahan tersebut, akreditasi dinilai menjadi instrumen penting untuk membangun kepercayaan global sekaligus membuka akses pasar internasional bagi produk dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Isu tersebut menjadi sorotan utama dalam Asia Pacific Accreditation Cooperation (APAC) Annual Meeting 2026 yang digelar di Nusa Dua, Bali.

Mengusung tema “Innovation, Trust and Sustainability: The Power of Accreditation” dengan subtema “Accreditation to Facilitate the Global Acceptance of Conformity Assessment Results”, forum tersebut membahas peran strategis akreditasi dalam menghadapi tantangan perdagangan global dan mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Pertemuan tahunan badan akreditasi Asia Pasifik tersebut dihadiri delegasi dari berbagai negara, organisasi internasional, dan para pemangku kepentingan.

Kegiatan dibuka oleh Gubernur Bali I Wayan Koster, Kepala Badan Standardisasi Nasional (BSN) sekaligus Ketua Komite Akreditasi Nasional (KAN) Donny Purnomo Januardhi Effyandono, serta Chair Asia Pacific Accreditation Cooperation (APAC).

Kepala BSN sekaligus Ketua KAN, Donny Purnomo Januardhi Effyandono, mengatakan akreditasi saat ini telah berkembang menjadi bagian penting dari infrastruktur ekonomi modern.

Menurutnya, akreditasi tidak lagi hanya dipahami sebagai proses teknis untuk menilai kompetensi sebuah lembaga.

“Di tengah perkembangan teknologi yang sangat cepat dan meningkatnya tuntutan pasar global terhadap aspek mutu, keamanan, serta keberlanjutan, akreditasi berperan sebagai pembangun kepercayaan. Akreditasi memastikan bahwa lembaga yang melakukan pengujian, inspeksi, sertifikasi, maupun verifikasi memiliki kompetensi yang dapat dipertanggungjawabkan sehingga hasilnya dipercaya oleh regulator, pelaku usaha, dan konsumen,” ujar Donny dalam keterangannya, Senin (22/6/2026).

Donny menjelaskan tantangan perdagangan global terus berkembang seiring munculnya berbagai teknologi baru, seperti kecerdasan buatan, kendaraan listrik, energi terbarukan, dan teknologi kesehatan.

Di sisi lain, tuntutan terhadap praktik bisnis berkelanjutan juga semakin kuat.

Salah satu contoh yang menjadi perhatian dunia adalah penerapan European Union Deforestation Regulation (EUDR).

Regulasi tersebut mewajibkan komoditas yang masuk ke pasar Uni Eropa, termasuk kelapa sawit, harus dapat dibuktikan bebas dari praktik deforestasi.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa daya saing produk kini tidak lagi hanya ditentukan oleh harga dan kualitas semata.

Kemampuan membuktikan kepatuhan terhadap standar keberlanjutan menjadi faktor yang sama pentingnya.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow