“Keberlanjutan tidak cukup hanya dinyatakan, tetapi harus dapat dibuktikan. Karena itu, dibutuhkan sistem penilaian kesesuaian yang kredibel dan lembaga yang kompeten untuk melakukan sertifikasi maupun verifikasi. Akreditasi menjadi fondasi yang memastikan proses tersebut berjalan secara independen, transparan, dan dapat dipercaya,” jelas Donny.
Dalam sektor kelapa sawit, BSN melalui KAN terus memperkuat sistem akreditasi guna mendukung implementasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).
Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan kredibilitas sertifikasi, memperkuat ketertelusuran rantai pasok, serta membantu pelaku usaha memenuhi tuntutan pasar internasional.
Selain itu, keberadaan sistem saling pengakuan atau mutual recognition arrangements yang dimiliki organisasi akreditasi internasional membuat hasil pengujian, inspeksi, dan sertifikasi dari lembaga yang telah diakreditasi KAN dapat diterima di berbagai negara.
Dengan demikian, pelaku usaha tidak perlu lagi melakukan pengujian ulang saat memasuki pasar ekspor.
Manfaatnya, hambatan teknis perdagangan dapat ditekan, biaya kepatuhan berkurang, dan akses pasar internasional menjadi lebih cepat.
Penguatan sistem akreditasi nasional juga membuahkan hasil yang cukup membanggakan.
Berdasarkan Global Quality Infrastructure Index (GQII) 2025, Indonesia berhasil menempati peringkat ke-23 dunia dan menjadi negara dengan capaian tertinggi di kawasan ASEAN dalam bidang Infrastruktur Mutu Nasional.
Tak hanya itu, pada pilar akreditasi, Indonesia bahkan berhasil menduduki posisi keempat dunia dari total 185 negara yang dievaluasi.
Capaian tersebut menjadi bukti kuat bahwa sistem akreditasi Indonesia telah mendapatkan pengakuan internasional.
Meski demikian, Donny menegaskan pengembangan sistem akreditasi harus terus dilakukan untuk menjawab tantangan ekonomi masa depan.
Penguatan skema akreditasi untuk mendukung ekonomi digital, teknologi maju, transisi energi, hingga verifikasi keberlanjutan akan menjadi agenda strategis ke depan.
“Akreditasi bukan sekadar instrumen teknis, melainkan infrastruktur kepercayaan yang mendukung pertumbuhan ekonomi. Ketika hasil pengujian, inspeksi, dan sertifikasi dipercaya secara global, produk Indonesia memiliki peluang yang lebih besar untuk menembus pasar internasional, meningkatkan nilai tambah, dan memperkuat daya saing nasional,” kata Donny.















