CILACAP, MyInfo.ID – Pulau Nusakambangan selama ini kadung melekat dengan citra yang menyeramkan. Dikelilingi ombak ganas pantai selatan Cilacap, Jawa Tengah, pulau ini menjadi rumah bagi sejumlah lembaga pemasyarakatan (lapas) berkeamanan super-ketat yang dihuni narapidana kelas kakap.
Namun, kesan angker itu perlahan terkikis. Di balik jeruji besi dan dinding-dinding beton yang kokoh, sebuah transformasi besar tengah terjadi. Lahan-lahan telantar yang dulunya dipenuhi semak belukar, kini disulap menjadi kawasan agribisnis produktif yang menghasilkan berbagai komoditas pangan bernilai tinggi.
Perubahan mencolok ini merupakan bagian dari implementasi 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) di bawah komando Menteri Agus Andrianto. Tak main-main, para warga binaan di sana kini aktif mengelola budidaya udang vaname, ikan sidat, peternakan ayam dan bebek petelur, hingga budidaya tanaman premium seperti anggur dan anggrek.
Ditinjau DPR, Jadi Percontohan Nasional
Geliat produktivitas di pulau penjara ini menarik perhatian legislatif. Pada Sabtu (20/6), Menteri Imipas Agus Andrianto bersama Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, datang langsung untuk memantau dari dekat program kemandirian tersebut.
Menteri Agus mengungkapkan, optimalisasi lahan tidur (idle) milik lapas ini sengaja digenjot agar aset negara bisa memberikan dampak nyata yang lebih luas. Selain memasok kebutuhan dapur lapas secara mandiri, hasil panen dari Nusakambangan diproyeksikan untuk ikut menjaga stabilitas pangan di luar penjara.
“Kami memanfaatkan lahan-lahan yang sebelumnya belum digunakan untuk membantu kebutuhan internal pemasyarakatan (termasuk penyediaan bahan pangan bagi warga binaan),” ujar Menteri Agus dalam keterangannya dikutip Senin (22/6/2026).
Ia meyakini, melimpahnya produksi pangan, terutama komoditas sensitif seperti telur dari dalam lapas ini bisa memperkuat pasokan pasar, sekaligus ikut andil dalam meredam lonjakan harga pangan di tengah masyarakat.
Dari Tempat Menyeramkan Jadi Lahan Subur
Apresiasi besar datang dari Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto. Ia mengaku takjub saat melihat langsung bagaimana kawasan yang dulunya dianggap tertutup dan mengerikan, kini justru berubah menjadi area hijau yang sangat produktif.















