Berikutnya adalah periode baduta. Intervensinya mencakup pemberian ASI eksklusif, pemenuhan kebutuhan gizi, imunisasi, serta pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak.
Tahap keempat berkaitan dengan penguatan layanan kesehatan. Pemerintah perlu memastikan puskesmas dan rumah sakit memiliki kesiapan dari sisi fasilitas maupun pembiayaan untuk mendukung pelayanan kesehatan ibu dan anak.
Dante menilai seluruh intervensi tersebut tidak akan berjalan maksimal apabila hanya dibebankan kepada ibu. Dukungan keluarga, khususnya ayah, menjadi bagian penting dalam memastikan kebutuhan kesehatan dan gizi anak terpenuhi.
Karena itu, Kementerian Kesehatan mendorong Fatherhood Movement. Gerakan tersebut diharapkan membuat ayah tidak hanya hadir ketika proses persalinan, tetapi juga terlibat sepanjang periode 1.000 HPK.
“Perkembangan otak justru terjadi paling besar itu di usia 0 sampai 2 tahun. Oleh karena itu, investasi early years ini sangat penting. Kita juga menginisiasi gerakan Fatherhood Movement agar ayah terlibat aktif dalam pemenuhan kesehatan anak. Kalau dulu kita kenal Suami Siaga saat persalinan, nanti di 1.000 HPK juga ada Ayah Siaga supaya anak-anaknya tumbuh sehat,” ujar Wamenkes Dante.
Konsep tersebut memperluas pemahaman mengenai peran ayah dalam kesehatan anak. Jika sebelumnya istilah Suami Siaga lebih dikenal dalam konteks pendampingan saat persalinan, pemerintah kini ingin mendorong keterlibatan ayah sejak masa kehamilan hingga anak memasuki usia dua tahun.
Wamen PPPA Veronica Tan juga menilai keberhasilan program pemerintah harus berjalan seiring dengan praktik di dalam rumah. Menurut dia, berbagai kebijakan lintas sektor perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan yang dilakukan keluarga sehari-hari.
Ia mengibaratkan koordinasi tersebut seperti botol dan tutupnya yang harus tepat dan saling melengkapi. Artinya, program pemerintah perlu mendapatkan dukungan nyata di tingkat keluarga agar manfaatnya benar-benar dirasakan anak.
“Kualitas pendidikan dan kesehatan sangat bergantung pada fondasi keluarga. Terkadang orang tua sibuk, anak juga sibuk. Maka yang terpenting adalah membangun quality time (waktu berkualitas) antara bapak, ibu, dan anak. Kembalikan lagi kebiasaan makan masakan rumah, bukan makanan instan, sebagai fondasi hidup sehat yang kuat,” pungkas Wamen PPPA Veronica.













