News  

Sidang Pakai Riasan Black Metal, Mahasiswa DKV Telkom University Purwokerto Viral

Ragatama Ar-Rauf Rahmaputra mengangkat penelitian berjudul "Perancangan Buku Komik Dokumenter Perjalanan Band Santet sebagai Artefak Visual." Foto: Telkom University Purwokerto
banner 120x600

PURWOKERTO, MyInfo.ID – Penampilan seorang mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) Telkom University Purwokerto saat menjalani sidang tugas akhir menjadi sorotan di media sosial. Mengenakan corpse paint, riasan wajah yang identik black metal, mahasiswa tersebut sukses menarik perhatian warganet hingga videonya tersebar luas dan diberitakan sejumlah media nasional.

Namun di balik penampilan yang viral itu, terdapat proses akademik yang serius. Riasan tersebut bukan sekadar gaya atau sensasi, melainkan bagian dari representasi visual terhadap objek penelitian yang diangkat dalam tugas akhirnya.

Mahasiswa tersebut adalah Ragatama Ar-Rauf Rahmaputra. Ia mengangkat penelitian berjudul “Perancangan Buku Komik Dokumenter Perjalanan Band Santet sebagai Artefak Visual.” Melalui karya itu, Ragatama mendokumentasikan perjalanan Band Santet, grup black metal legendaris asal Banyumas, dalam bentuk buku komik dokumenter yang merekam sejarah sekaligus perkembangan subkultur musik di daerah tersebut.

Fenomena ini bermula ketika salah satu dosen penguji, Aditya Tama Isdiarto, S.Sn., M.Sn., mengunggah dokumentasi sidang melalui akun Threads @adit505 dengan keterangan “ujian dalam keadaan black metal”.

Unggahan tersebut dengan cepat menarik perhatian pengguna media sosial. Dokumentasi sidang kemudian menyebar ke berbagai platform, dibagikan akun-akun besar dengan jutaan pengikut, hingga akhirnya menjadi pemberitaan di sejumlah media nasional.

Kepala Program Studi DKV Telkom University Purwokerto, Galih Putra Pamungkas, S.Sn., M.Sn., menjelaskan penggunaan kostum atau cosplay yang sesuai dengan objek penelitian memang menjadi bagian dari metode pembelajaran di program studi tersebut.

Menurutnya, pendekatan tersebut telah diterapkan selama sekitar tiga tahun terakhir agar mahasiswa mampu memahami objek penelitian secara lebih mendalam.

“Cosplay itu memang kami wajibkan kepada mahasiswa ketika melakukan presentasi Tugas Akhir. Tujuannya bukan sekadar unik atau mencari perhatian, tetapi menjadi bagian dari proses akademik agar mahasiswa tidak memiliki jarak dengan objek yang ditelitinya. Dengan begitu mereka dapat lebih memahami, menginternalisasi, dan mengomunikasikan hasil penelitiannya secara lebih utuh,” jelas Galih, Sabtu (11/7/2026).

Ia menambahkan, Program Studi DKV mendorong mahasiswa menghasilkan karya yang kreatif, orisinal, sekaligus memiliki landasan akademik yang kuat.

Meski mahasiswa diberi ruang berekspresi, Galih menegaskan penampilan saat sidang bukan menjadi indikator penilaian.

Penilaian tetap didasarkan pada kualitas riset, proses bimbingan, laporan ilmiah, hasil perancangan, serta kemampuan mahasiswa mempertanggungjawabkan karya di hadapan dosen penguji.

Ragatama mengaku memilih Band Santet sebagai objek tugas akhirnya karena melihat grup musik tersebut memiliki nilai sejarah yang penting dalam perkembangan subkultur musik di Banyumas maupun Indonesia.

“Band Santet memiliki nilai historis dan budaya. Menurut saya, perjalanan mereka layak diangkat dalam sebuah dokumentasi,” ujar Ragatama.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow