Untuk menyampaikan hasil penelitiannya, ia memilih media buku komik dokumenter. Menurutnya, komik mampu menjadi media yang lebih menarik dalam memperkenalkan sejarah dan perjalanan Band Santet kepada masyarakat.
Penyusunan tugas akhir tersebut diawali dengan riset selama sekitar tiga bulan melalui observasi, pengumpulan data, hingga wawancara langsung dengan personel Band Santet. Setelah itu, ia menghabiskan waktu sekitar dua bulan untuk merancang buku komik dokumenter tersebut.
Saat mengikuti sidang, Ragatama tampil mengenakan corpse paint, riasan khas yang selama ini identik dengan penampilan panggung Band Santet.
Menurutnya, pilihan tersebut dilakukan sebagai bagian dari konsep visual yang selaras dengan objek penelitian.
“Saya menggunakan corpse paint untuk merepresentasikan Band Santet yang memang identik dengan penampilan tersebut saat manggung.”
Ragatama mengaku sama sekali tidak memperkirakan dokumentasi sidangnya akan menjadi viral.
“Saya kaget dan enggak nyangka karena tiba-tiba ramai. Rasanya seperti mimpi.”
Ia berharap perhatian publik tidak berhenti pada penampilannya semata, melainkan juga memahami proses penelitian, nilai budaya, serta pesan yang ingin disampaikan melalui karya tersebut.
Menanggapi viralnya sidang tersebut, Galih mengaku bersyukur karya mahasiswanya mendapat perhatian masyarakat luas.
Menurutnya, fenomena itu menunjukkan bahwa pesan visual yang dibangun mahasiswa berhasil menjangkau audiens di luar lingkungan kampus.
“Kami tentu senang karena karya mahasiswa akhirnya mendapat perhatian masyarakat. Artinya, upaya mahasiswa dalam mengomunikasikan objek risetnya berhasil tersampaikan kepada publik. Ini menunjukkan bahwa komunikasi visual yang mereka bangun dapat diterima oleh audiens yang lebih luas,” ujarnya.
Galih berharap momentum tersebut tidak hanya memperkenalkan Program Studi DKV Telkom University Purwokerto, tetapi juga mengangkat Banyumas sebagai daerah yang memiliki kekayaan kreativitas dan subkultur yang layak dikaji melalui karya akademik.
“Harapannya DKV Telkom University Purwokerto semakin dikenal. Begitu pula Banyumas sebagai daerah yang memiliki potensi kreativitas dan subkultur yang menarik untuk dikaji. Semoga dari semakin dikenalnya DKV, akan lahir lebih banyak karya kreatif yang memberi manfaat bagi masyarakat,” tutupnya.















