Petugas haji dibagi ke dalam 10 satuan ad-hoc yang masing-masing bertanggung jawab mengawasi 11 hingga 13 markas atau kawasan tenda jemaah.
“Penguatan layanan ini dilakukan agar jemaah mendapatkan pendampingan, pelindungan, dan bantuan secara cepat serta terkoordinasi selama fase Mina berlangsung,” ujar Maria.
Di tengah suhu ekstrem yang mencapai 41 derajat Celsius di Mina, Kemenhaj juga mengingatkan jemaah untuk tidak memaksakan diri saat melaksanakan lontar jumrah.
“Kami mengimbau jemaah Indonesia untuk tidak melaksanakan lontar jumrah pada pukul 10 pagi hingga 2 siang waktu Arab Saudi guna menghindari cuaca panas dan kepadatan. Jemaah diharapkan tetap berada di dalam tenda dan mengikuti arahan petugas,” kata Maria.
Jemaah juga diminta menggunakan jalur dua atau jalur atas yang telah ditetapkan sebagai rute resmi menuju Jamarat agar arus pergerakan tetap lancar dan risiko kepadatan bisa diminimalkan.
Selain aspek keamanan dan kelancaran ibadah, Kementerian Haji dan Umrah turut menyoroti pentingnya menjaga kondisi fisik selama fase Mina berlangsung.
Maria mengimbau jemaah memperbanyak konsumsi air putih, makan secara teratur, menggunakan payung atau pelindung kepala saat berada di luar tenda, serta membatasi aktivitas fisik yang tidak diperlukan.
Perhatian khusus juga diberikan kepada jemaah lansia, penyandang disabilitas, dan kelompok risiko tinggi agar mendapatkan pendampingan maksimal selama menjalani ibadah.
“Khusus bagi jemaah lansia, jemaah disabilitas, dan jemaah risiko tinggi, kami meminta keluarga kloter, ketua rombongan, dan sesama jemaah untuk terus memberikan perhatian dan pendampingan,” ujarnya.















