Produser BAS, Riski Dwi Kemala, S.Sn., M.Sn., menyebut cara pandang seperti itulah yang membuat Narsih dipilih. Sannidhi dirancang sebagai ruang diskusi bersama praktisi dan tenaga ahli yang telah lama berkarya dan mengabdi di bidangnya.
Menurut Riski, para maestro menjadi rujukan karena pengetahuan mereka terbentuk dari praktik, rekam jejak, dan pengalaman nyata yang layak diturunkan ke generasi berikutnya. Karena itu, Narsih diundang bukan hanya untuk membahas teknik Lengger, tetapi juga untuk menjelaskan mengapa tradisi ini tumbuh, bertahan, dan berarti bagi pendukungnya.
Kegelisahan Narsih tertuju pada penari masa kini. Ia menilai kemampuan membawakan Lengger perlu dibarengi pemahaman akan konteks budayanya.
“Banyak sekarang penari yang hanya bisa menarikan Lengger, tetapi jarang memiliki pengetahuan tentang mengapa Lengger penting bagi tradisi masyarakat Banyumasan,” ungkapnya.
Pernyataan itu mengingatkan bahwa mewarisi tradisi tidak cukup dengan menguasai bentuk dan ragam gerak. Nilai, fungsi, ingatan, dan hubungan sosial di baliknya perlu dipahami supaya tradisi tidak kehilangan makna saat berpindah tangan. Penari pun tidak hanya dituntut piawai bergerak, tetapi juga mengenali pengetahuan budaya yang melekat pada setiap geraknya.
Perjalanan Narsih sendiri menjadi contohnya. Keterlibatannya dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan membuat Lengger terus hadir di tengah warga. Dari ruang-ruang itulah tradisi punya kesempatan untuk dipraktikkan, dikenal, dan dirawat, didukung kegemarannya menari yang bertahan puluhan tahun.
Usai diskusi, acara berlanjut dengan praktik menari bersama. Peserta tak hanya mendengar kisah sang maestro, tetapi juga mencoba langsung pengetahuan gerak yang ia bawa. Obrolan yang tadi mengalir lewat kata-kata pun beralih menjadi pengalaman tubuh, gerak menjadi cara untuk mengamati, merasakan, dan belajar dari praktik panjang seorang penari.















