News  

Ritual Anak Bajang di DCF 2026, Ada yang Minta Kambing hingga Motor Trail

Sebanyak 13 anak bajang mengikuti prosesi ruwatan rambut gimbal dalam rangkaian Dieng Culture Festival (DCF) 2026 di Kompleks Candi Arjuna, Dieng, Banjarnegara. Foto: Darmawan
banner 120x600

Winda Aulia dan Malayeka Rafana Arabella memiliki permintaan yang hampir sama. Keduanya meminta sepeda listrik berwarna pink.

Sementara Mafaza Nuha Raisa memilih sepeda berwarna ungu.

Permintaan lainnya datang dari Hafizah Zia Almahira. Ia meminta sebuah laptop dan sepasang ayam kalasan.

Aurellia Aisha Ramadhani meminta perosotan dan ayunan berwarna pink. Sedangkan Umi Fatimatuz Zahro menginginkan sepeda listrik berwarna pink serta dua ekor ayam hidup.

Alvi Zahidatul Vardah memiliki permintaan berupa selendang kecil dan besar serta sebuah telepon genggam.

Herlista Zoya Elmeera meminta dua ekor ikan hias, dua kilogram daging bebek, dan sepeda berwarna pink.

Sementara Lilla Chandra Kusuma mengajukan permintaan yang cukup berbeda dari anak-anak lainnya, yakni sebuah motor trail.

Ada pula Laira Anindya Maryam yang meminta sesuatu yang berkaitan langsung dengan ritual. Ia ingin rambut gimbalnya dicukur langsung di Dieng.

Chaerudin menjelaskan, pemenuhan permintaan anak merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi ruwatan rambut gimbal.

Kepercayaan masyarakat Dieng menyebutkan, rambut gimbal tidak boleh dipotong sebelum permintaan anak dipenuhi.

“Kalau permintaannya sudah dikabulkan, baru rambutnya bisa dipotong. Kalau dipotong sebelum permintaannya dipenuhi, masyarakat percaya rambut gimbalnya bisa tumbuh kembali dan anak bisa sakit lagi,” katanya.

Kepercayaan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa prosesi pencukuran dilakukan dengan rangkaian ritual yang panjang. Bagi masyarakat Dieng, pencukuran bukan hanya persoalan memotong rambut, tetapi bagian dari tradisi yang memiliki nilai budaya dan spiritual.

Karena itu, barang-barang yang diminta anak menjadi bagian penting dalam prosesi tahun ini.

Setelah seluruh ritual selesai dan rambut gimbal berhasil dicukur, rangkaian tradisi belum berakhir.

Potongan rambut tersebut kemudian dilarung ke Telaga Balai Kambang, yang lokasinya tidak jauh dari Kompleks Candi Arjuna.

Sebelum pelarungan dilakukan, masyarakat terlebih dahulu menggelar ritual dengan menyiapkan berbagai sajian. Makanan, buah-buahan, dan hasil bumi turut disertakan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan.

Pelarungan menjadi penutup dari rangkaian ruwatan. Tradisi tersebut memperlihatkan hubungan erat antara kehidupan masyarakat Dieng, warisan leluhur, dan nilai spiritual yang masih dijaga hingga kini.

Bagi Chaerudin, masuknya ritual rambut gimbal ke dalam rangkaian DCF memiliki arti lebih luas daripada sekadar menjadi tontonan wisata.

Tradisi yang sebelumnya dilakukan masyarakat secara mandiri kini dapat dikenal lebih luas melalui festival budaya. Wisatawan yang datang tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi juga dapat mengenal salah satu warisan budaya masyarakat Dieng.

“Harapannya, DCF bisa terus menjadi sarana pelestarian budaya sekaligus mengenalkan tradisi unik masyarakat Dieng kepada masyarakat yang lebih luas,” ujarnya.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow