News  

Ritual Anak Bajang di DCF 2026, Ada yang Minta Kambing hingga Motor Trail

Sebanyak 13 anak bajang mengikuti prosesi ruwatan rambut gimbal dalam rangkaian Dieng Culture Festival (DCF) 2026 di Kompleks Candi Arjuna, Dieng, Banjarnegara. Foto: Darmawan
banner 120x600

BANJARNEGARA, MyInfo.ID – Ruwatan rambut gimbal DCF 2026 menjadi salah satu momen paling ditunggu dalam penyelenggaraan Dieng Culture Festival (DCF) 2026. Sebanyak 13 anak berambut gimbal atau anak bajang mengikuti prosesi sakral tersebut di Kompleks Candi Arjuna, Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Sabtu (29/8/2026).

Bukan hanya prosesi pencukuran yang menarik perhatian. Sebelum rambut mereka dipotong, seluruh permintaan masing-masing anak harus lebih dulu dipenuhi.

Permintaan itu terbilang beragam. Ada anak yang meminta kambing, sepeda listrik, laptop, telepon genggam, bahkan motor trail.

Ruwatan rambut gimbal kemudian menjadi puncak rangkaian acara hari kedua DCF 2026. Tradisi yang diwariskan masyarakat Dieng secara turun-temurun itu kini menjadi salah satu ikon utama festival yang tahun ini memasuki penyelenggaraan ke-16.

Rangkaian ritual dimulai dengan jamasan sebelum prosesi pencukuran. Setelah itu, 13 anak bajang mengikuti kirab budaya dari rumah pemangku adat di Desa Dieng Kulon menuju Kompleks Candi Arjuna.

Kawasan Dieng mulai dipadati warga dan wisatawan sejak sekitar pukul 08.00 WIB. Sekitar pukul 09.30 WIB, rombongan kirab bergerak menuju lokasi pelaksanaan ruwatan.

Anak-anak bajang tampil mengenakan pakaian serba putih. Mereka diarak menggunakan kereta kuda dan didampingi keluarga masing-masing.

Suasana kirab semakin meriah dengan iringan drum band tradisional, pertunjukan tari, serta peserta yang mengenakan kostum prajurit keraton.

Rombongan tersebut dipimpin pemangku adat bersama Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dieng Pandawa, Alif Faozi.

Berbagai barang yang menjadi permintaan anak-anak juga ikut dibawa dalam rombongan. Barang-barang tersebut bukan sekadar pelengkap kirab, melainkan bagian penting dari rangkaian tradisi sebelum rambut gimbal mereka dipotong.

Panitia DCF 2026 Chaerudin menjelaskan, ruwatan rambut gimbal bukan tradisi yang baru muncul setelah adanya festival. Masyarakat Dieng telah menjalankan ritual tersebut sejak lama sebagai warisan leluhur.

“Tradisi pencukuran rambut gimbal ini sudah dilakukan masyarakat secara turun-temurun dari nenek moyang. Sebelum ada event, masyarakat melaksanakan sendiri karena memang ini sudah menjadi budaya,” kata Chaerudin.

Menurut Chaerudin, tradisi tersebut kemudian menjadi bagian dari Dieng Culture Festival dan berkembang menjadi salah satu daya tarik utama bagi wisatawan.

Ada pula cerita yang menyertai kemunculan rambut gimbal pada anak-anak Dieng. Chaerudin mengatakan, anak yang rambutnya kemudian tumbuh gimbal biasanya lebih dulu mengalami demam tinggi selama dua hingga tiga hari.

Setelah demam mereda, rambut anak mulai tumbuh gimbal dan terus berkembang seiring bertambahnya usia.

“Setelah panas selama beberapa hari, kemudian reda dengan sendirinya. Setelah itu rambutnya mulai menggimbal dan tumbuh seiring dengan pertambahan usia anak,” ujarnya.

Salah satu bagian yang paling menarik perhatian dalam ritual tahun ini adalah permintaan yang diajukan 13 anak bajang.

Anindie Cheryl Shaheenna dan Andien Checilia sama-sama meminta dua ekor kambing kecil, masing-masing terdiri dari kambing jantan dan betina.

Berbeda dengan keduanya, Khanza Azkadina Sarvenaz Mahsana meminta satu set peralatan makan yang menyerupai milik ibunya.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow