“Kami saat ini juga sedang mendesain konsep orang tua asuh, karena di Garut angka putus sekolah cukup banyak, ada hampir 16.000. Ini menjadi keprihatinan kita bersama, apa pun itu tetap anak kita yang harus kita dorong untuk sekolah,” ujarnya.
Program orang tua asuh tersebut dirancang sebagai gerakan kolaboratif yang melibatkan masyarakat, pemerintah, dan berbagai pihak lainnya untuk membantu anak-anak yang berisiko putus sekolah agar bisa kembali belajar.
Selain itu, Pemkab Garut juga telah menyiapkan bantuan perlengkapan sekolah berupa sepatu, tas, dan seragam bagi siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu.
Kebijakan ini diharapkan dapat mengurangi hambatan ekonomi yang selama ini menjadi salah satu penyebab anak berhenti bersekolah.
Selain persoalan anak tidak sekolah, Garut juga masih menghadapi tantangan terkait sarana pendidikan.
Abdusy Syakur menyebutkan, dari sekitar 4.400 ruang kelas pendidikan anak usia dini (PAUD) yang ada di wilayahnya, sekitar 1.000 ruang kelas masih membutuhkan perbaikan.
Keterbatasan anggaran daerah membuat proses renovasi berjalan cukup lambat.
“Kita hanya mampu memperbaiki kurang lebih 45 ruang kelas per tahun. Kalau dihitung-hitung, bisa sampai 30 tahun baru selesai jika tidak dibantu pemerintah pusat,” ungkapnya.
Menurutnya, dukungan pemerintah pusat sangat dibutuhkan agar percepatan pembangunan infrastruktur pendidikan dapat segera terealisasi.
Kunjungan Wamendikdasmen ke Desa Pasirkiamis menjadi pengingat bahwa penyelesaian persoalan anak tidak sekolah tidak bisa dibebankan kepada satu pihak saja.
Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, sekolah, masyarakat, hingga keluarga menjadi kunci utama untuk mengembalikan anak-anak ke bangku pendidikan.
Dari sebuah desa di lereng Gunung Papandayan, Garut menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya urusan pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa.
Jika seluruh pihak bergerak bersama, harapan mengurangi angka anak putus sekolah dan menghadirkan pendidikan yang merata bukan lagi sekadar cita-cita, melainkan target yang bisa diwujudkan.















