Dalam manifesto yang diluncurkan, terdapat tiga pilar utama yang menjadi fondasi gerakan tersebut.
Pilar pertama adalah Realitas sebagai Nadi, AI sebagai Kuas. Setiap karya sastra yang dihasilkan harus berangkat dari pengalaman nyata dan suara autentik masyarakat. AI hanya berfungsi membantu memperkaya bahasa, menyusun alur cerita, serta memperkuat daya tarik narasi.
Pilar kedua adalah Demokratisasi Narasi. LPPSLH ingin membuka ruang yang lebih luas bagi para pendamping masyarakat, aktivis sosial, maupun pelaku pemberdayaan agar dapat menjadi pencerita yang mampu menyampaikan pengalaman lapangan secara menarik kepada publik.
Sementara pilar ketiga adalah Sastra untuk Advokasi, yakni menjadikan karya sastra sebagai sarana membangun empati, memperkuat solidaritas sosial, serta mendorong keterlibatan masyarakat dalam berbagai isu kemanusiaan dan pemberdayaan.
“Kerja pemberdayaan adalah karya seni paling sejati karena membentuk ulang kehidupan masyarakat menjadi lebih bermartabat. Sudah saatnya seni tersebut diceritakan kembali dalam bentuk yang paling menyentuh jiwa manusia,” tegas Dr. Barid.
Melalui deklarasi ini, LPPSLH mengajak berbagai kalangan untuk terlibat dalam gerakan #SastraAIPemberdayaan. Mulai dari aktivis sosial, pendamping lapangan, pegiat pemberdayaan, sastrawan, pemerhati teknologi, hingga masyarakat umum.
Harapannya, berbagai kisah perubahan yang lahir dari desa-desa, komunitas marjinal, kelompok perempuan, petani, nelayan, hingga penyandang disabilitas dapat lebih dikenal dan menginspirasi masyarakat luas.
“Mari kita narasikan kerja-kerja pemberdayaan kita. Biarkan cerita-cerita tangguh dari pelosok desa dan sudut kota dibaca, dinikmati, dan meresap menjadi kekuatan pengubah dunia,” pungkas Dr. Barid Hardiyanto.















