JAKARTA, MyInfo.ID – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap rangkaian persoalan teknis dan operasional yang berkontribusi terhadap tabrakan KA 4B Argo Bromo Anggrek dengan KA 5568A Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026.
Kecelakaan yang terjadi pukul 20.52 WIB tersebut menyebabkan 123 orang menjadi korban. Sebanyak 107 orang mengalami luka-luka, sedangkan 16 lainnya meninggal dunia.
Dalam laporan investigasinya yang dikutip Selasa (29/9/2026), KNKT mencatat 60 temuan terkait aspek teknis dan operasional perjalanan kedua kereta.
KNKT Temukan Masalah Komunikasi hingga Perjalanan Kereta
Rangkaian kejadian bermula sekitar empat menit sebelum tabrakan. Pada pukul 20.48.24 WIB, KRL KA 5181B mengalami insiden dengan taksi listrik di JPL 86 Jalan Ampera.
Tidak lama kemudian, KA 5568A berhenti di Jalur I Stasiun Bekasi Timur untuk melayani penumpang. Kereta sempat bergerak maju 1,69 meter sebelum kembali berhenti pada pukul 20.49.24 WIB setelah masinis melihat kerumunan warga di jalur hulu.
Pada saat bersamaan, terdapat persoalan dalam penyampaian informasi mengenai posisi KRL tersebut. Informasi tertahannya KA 5568A di Stasiun Bekasi Timur tidak sampai kepada petugas PPKP Selatan yang tengah menangani insiden taksi listrik.
KNKT juga menemukan perbedaan waktu pada sejumlah perangkat pencatat perjalanan dan komunikasi, mulai dari radio Pusat Kendali Kereta Daop 1 Jakarta, logger lokomotif, logger persinyalan hingga rekaman CCTV.
Kondisi tersebut menjadi salah satu temuan penting dalam investigasi karena terjadi ketika sistem operasi kereta menghadapi situasi darurat.
KA Argo Bromo Anggrek Melintas Sebelum Tabrakan
Sekitar dua menit setelah KRL kembali berhenti, KA 4B Argo Bromo Anggrek melintas langsung di Jalur III Stasiun Bekasi pada pukul 20.50.43 WIB.
Tabrakan kemudian terjadi di Jalur I Stasiun Bekasi Timur pada pukul 20.52.12 WIB.
Menurut KNKT, persoalan tidak hanya berkaitan dengan posisi kedua kereta. Investigasi juga menemukan ketidaksesuaian grafik perjalanan kereta api (GAPEKA).
KA 5568A tercatat terlambat berangkat 8 menit 32 detik dari Stasiun Bekasi. Sebaliknya, KA Argo Bromo Anggrek berangkat 3 menit 17 detik lebih cepat.
Komunikasi masinis KRL dengan PPKP Selatan juga dilakukan secara individual dan bukan melalui panggilan darurat. Kondisi tersebut berlangsung di tengah polusi suara dari berbagai peralatan operasional.














