News  

Sejarah Pertempuran Prompong 1947: Perlawanan Pasukan Pelajar IMAM di Lereng Gunung Slamet

Tugu Batu Monumen Prompong. Foto: Dok Dinas Arpusda Banyumas
banner 120x600

PURWOKERTO, MyInfo.ID – Jatuhnya Kota Purwokerto ke tangan tentara Belanda pada 31 Juli 1947 pukul 12.00 WIB tidak lantas memadamkan api perlawanan. Menyadari pusat kota telah dikuasai musuh, seluruh kekuatan militer Tentara Nasional Indonesia (TNI), aparatur Karesidenan Banyumas, Kepolisian Negara, hingga Kementerian Dalam Negeri (Departemen Dalam Negeri) menarik diri ke arah utara.

Lereng selatan Gunung Slamet pun mendadak disulap menjadi benteng pertahanan alami sekaligus pusat gerilya Republik Indonesia. Desa-desa seperti Baseh, Dawuhan Wetan, Dawuhan Kulon, Blembeng, hingga Windujaya berubah menjadi markas sembunyi para pejuang, sebelum akhirnya markas Kemendagri yang berkedudukan di Baturraden dievakuasi ke Yogyakarta.

Melansir catatan sejarah dalam buku Banyumas Membara Era Tahun 1945-1950, Belanda yang berang akan taktik gerilya ini langsung melancarkan operasi pembersihan. Dari pusat Kota Purwokerto, dentuman meriam dihujankan secara membabi buta ke arah desa-desa di kaki gunung.

Konvoi pasukan Belanda mulai merangsek ke pedesaan. Pada 6 Agustus 1947 sekitar pukul 15.00 WIB, satu kolone (barisan tentara yang diatur sebagai lajur) lapis baja Belanda bergerak menuju Desa Karangnangka dari arah selatan. Di saat bersamaan, pasukan musuh lainnya muncul dari arah Pamijen. Namun, penyergapan itu berantakan usai TNI dari Kompi Koesworo melancarkan aksi tembak-menembak sengit yang memaksa Belanda mundur teratur.

Siasat Menyerang Purwokerto dan Lahirnya Pasukan Pelajar SMP

Usai memukul mundur musuh di Karangnangka, Kompi Koesworo menggeser posisinya ke Dusun Prompong, sebuah kawasan asri di lereng Baturraden yang berjarak sekitar 6 kilometer dari Alun-alun Purwokerto. Di sana, mereka bergabung dengan pasukan Hizbullah bentukan para ulama dan warga lokal.

Pada Kamis malam, 7 Agustus 1947, aksi nekat dilancarkan. Kompi Koesworo bergerak menyusup ke arah kota membawa satu regu mortir untuk menggempur markas Belanda di Purwokerto. Aksi ini dikawal ketat oleh sekelompok remaja bersenjata yang menamakan diri Pasukan Pelajar IMAM.

Nama “IMAM” sendiri lahir dari ide berani Soeparto, seorang pemuda yang saat itu baru duduk di kelas 3 SMP. Tergerak oleh rasa patriotisme, Soeparto menggalang teman-teman sekolahnya yang memanggul senjata bersama Badan Keamanan Rakyat (BKR) demi mempertahankan kemerdekaan tanah air.

Sementara regu pemukul bergerak ke kota, Dusun Prompong dijaga ketat oleh sisa pasukan gabungan, termasuk laskar Hizbullah asal Tegal di bawah komando Asikin.

Jumat Kelabu di Dusun Prompong: Disergap Tanpa Suara Tembakan

Keesokan harinya, Jumat 8 Agustus 1947 sekitar pukul 07.00 WIB, kesunyian fajar Dusun Prompong pecah. Belanda melancarkan serangan balasan yang sangat terencana dan mematikan.

Tanpa disadari para pejuang muda, tentara Belanda mengepung Dusun Prompong secara senyap dari dua penjuru. Pesawat pengintai “capung” meraung-raung di udara, sementara kendaraan lapis baja menyisir dari arah selatan. Satu kolone bergerak merayap di sepanjang alur sungai kecil sebelah timur desa. Kolone lainnya menyelinap secara rahasia di antara rimbunnya kebun jagung milik warga tanpa melepaskan satu pun tembakan pembuka.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow