Tim penanganan terdiri dari petugas berwenang dan tenaga kedokteran hewan yang akan melakukan identifikasi secara menyeluruh.
Terkait penyebab hiu tutul bisa sampai terdampar di bibir pantai, Jumawan menduga satwa tersebut terlalu mendekati kawasan pesisir ketika mencari makan sehingga mengalami kesulitan untuk kembali ke perairan yang lebih dalam.
Selain faktor alami, aktivitas manusia di laut juga disebut berpotensi memengaruhi arah pergerakan hiu.
Menurutnya, penggunaan lampu berintensitas tinggi oleh nelayan pencari benur pada malam hari diduga dapat mengganggu sistem navigasi satwa laut berukuran besar tersebut.
“Ada kemungkinan hiu kehilangan arah akibat cahaya terang di laut, tetapi untuk penyebab pastinya masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut,” katanya.
Kemunculan hiu tutul di kawasan pesisir bukan hanya menjadi perhatian masyarakat, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem laut.
Hiu tutul merupakan salah satu spesies ikan terbesar di dunia yang umumnya hidup di perairan tropis dan subtropis. Satwa ini dikenal memiliki karakter jinak dan lebih banyak mengonsumsi plankton serta organisme kecil lainnya.
Kasus terdamparnya hiu tutul di Pantai Cemara Sewu kini masih menjadi fokus penyelidikan tim terkait untuk memastikan faktor yang menyebabkan satwa tersebut kehilangan orientasi hingga akhirnya mati di pesisir selatan Kabupaten Cilacap.















