Di sisi lain, dunia usaha menyambut positif ruang kolaborasi yang dibuka oleh Unsoed. Direktur PT Astana Wira Karya, Muhammad Umar Anif, S.TP., M.P., memandang proyek ini sebagai tonggak sejarah baru bagi ekspansi bisnis perusahaannya.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan oleh Universitas Jenderal Soedirman melalui BPU Unsoed. Kawasan industri ini akan menjadi pusat produksi dan pengembangan teknologi tepat guna yang kami harapkan mampu memberikan kontribusi bagi kemajuan sektor pertanian, perkebunan, perikanan, dan industri pengolahan pangan. Sinergi dengan Unsoed akan memperkuat inovasi dan pengembangan produk yang semakin sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” tutur Umar.
Sebagai informasi, PT Astana Wira Karya merupakan produsen mesin teknologi tepat guna yang berfokus pada efisiensi pangan. Salah satu produk andalan mereka yang sudah banyak membantu petani di lapangan adalah mesin penanam padi otomatis (rice transplanter).
Kompleks industri terpadu ini nantinya akan disokong oleh infrastruktur mumpuni. Di antaranya dua unit bengkel kerja (workshop) dan gudang (warehouse) raksasa berukuran masing-masing 48 x 30 meter untuk keperluan fabrikasi.
Selain itu, akan dibangun area parkir kontainer berkapasitas 10 unit dengan konstruksi beton kokoh (K-350), kantor operasional dua lantai seluas 337 meter persegi, hingga mess karyawan berkapasitas 24 kamar yang dilengkapi fasilitas penunjang lengkap.
Bagi Kabupaten Banyumas, kehadiran Kawasan Industri Astana Wira Karya di Gunung Tugel ini diproyeksikan menjadi motor penggerak ekonomi baru. Bukan cuma membuka keran lapangan kerja baru bagi warga lokal, kawasan ini juga dirancang menjadi laboratorium alam bagi mahasiswa Unsoed untuk magang, melakukan riset terapan, hingga menguji coba hasil penelitian mereka langsung di sektor industri riil.















