“Jangankan murid, bahkan guru-guru pun hampir menyerah dengan kondisi SMKN 5 Manokwari. Kemudian kita mencoba untuk membangun komunikasi dengan sekitar karena kalau masyarakat percaya dengan SMKN 5 Manokwari maka sekolah ini akan berkembang perlahan,” ucap Choiruddin.
Minimnya fasilitas saat itu membuat jumlah siswa stagnan, bahkan tidak sampai 50 orang. Banyak orang tua lebih memilih menyekolahkan anak ke kota yang berjarak sekitar 100 kilometer.
Dalam kondisi serba terbatas, para guru tidak tinggal diam. Mereka aktif mendatangi sekolah-sekolah SMP dan masyarakat sekitar untuk mengajak siswa bergabung, sambil terus berbenah meski dengan sumber daya terbatas.
Salah satu guru, Amirullah, mengungkapkan bagaimana kondisi sekolah dahulu berdampak pada kepercayaan diri tenaga pendidik.
“Ketika sekolah sudah selesai direvitalisasi, guru dan murid tersenyum melihat wajah SMKN 5 Manokwari yang dulu nyaris tidak terlihat. Dampak paling nyata terasa pada murid. Anak-anak yang sebelumnya harus menempuh jarak jauh untuk bersekolah kini memiliki pilihan bersekolah yang dekat dengan rumah,” ucap Amirullah.
Ia juga menuturkan, sebelum revitalisasi, keterbatasan ruang praktik membuat tidak semua siswa bisa mengikuti kegiatan belajar secara optimal.
Perubahan signifikan turut dirasakan siswa. Alberto Wilson, siswa kelas XII, menyebut kondisi sekolah kini jauh lebih baik dibanding sebelumnya.
“Sekarang saya selalu bisa bertemu teman-teman, kalau dulu teman-teman jarang masuk karena sekolah yang jelek dan jaraknya juga jauh. Sekolah kita sekarang sudah bagus dan saya harap teman-teman bisa rajin berangkat ke sekolah untuk belajar kembali dengan nyaman,” ucap Wilson.















