BANYUMAS, MyInfo.ID – Arsip Batik Indonesia ternyata menyimpan cerita jauh lebih luas daripada sekadar perkembangan motif dan kain tradisional. Ribuan dokumen, foto, pola, hingga rekaman yang dihimpun 17 lembaga dan pemilik koleksi kini diajukan dalam program Memori Kolektif Bangsa (MKB) 2026 Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
Khazanah bertajuk “Arsip Batik Indonesia: Jaringan Dagang dan Budaya 1900–2023” itu terdiri atas 13 bundel berkas.
Isinya mencakup 2.427 lembar arsip tekstual, 360 lembar foto, 90 lembar arsip bentuk khusus seperti etiket, buklet dan klowongan kain, serta satu buah rekaman.
Koleksi tersebut berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah, antara lain Pekalongan, Batang, Lasem di Kabupaten Rembang, Banyumas dan Boyolali.
Ribuan Arsip Membuka Jejak Perdagangan Batik
Dokumen yang dikumpulkan memperlihatkan bagaimana batik berkembang sebagai bagian dari aktivitas ekonomi lintas daerah.
Arsip tekstual berupa bon, nota perdagangan, catatan pesanan dan surat permintaan barang dari sekitar 1920 hingga 1990 menjadi salah satu sumber penting. Ada pula sketsa batik buatan tangan sejak 1930 serta dokumen perdagangan dari Museum Batik Tiga Negeri Lasem dan Yayasan Lasem Heritage.
Foto dari Rumah Arsip Banjoemas dan Yayasan Lasem Heritage turut merekam penggunaan batik dalam kehidupan masyarakat pada periode 1900 hingga 1980-an.
Sementara itu, koleksi lain meliputi sketsa pola batik dari Museum Batik Gan, etiket dan merek dagang kain katun impor dari Eropa serta India milik Afif Syakur, hingga surat perdagangan dan foto keluarga pengusaha batik Haji Bilal.
Koordinator Jaringan Lintas Daerah, Atik Fara dari Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Pekalongan, mengatakan kekuatan utama pengajuan tersebut terletak pada kolaborasi lintas wilayah dan komunitas.
“Kolaborasi lintas daerah dan lintas komunitas ini menjadi salah satu kekuatan utama nominasi, tujuan dari bergotong royong adalah mengumpulkan arsip batik yang sangat jarang,” kata Atik, Minggu (30/8/2026).
Menurut Atik, koleksi kain batik relatif lebih mudah ditemukan karena masih berada di museum, kolektor maupun pasar. Kondisi berbeda terjadi pada arsip yang merekam proses dan jaringan di balik perdagangan batik.
“Kain batik dengan berbagai motif sepanjang sejarah perkembangannya masih mudah ditemukan di museum, kolektor atau diperjualbelikan. Namun arsip tekstual, video, foto terkait rantai nilai batik ini cukup langka,” imbuh Atik.
Dari dokumen tersebut, dapat ditelusuri hubungan antara pemasok bahan baku, pembatik, pengusaha, pedagang hingga pasar di luar Pulau Jawa dan luar negeri.
Batik Juga Menjadi Penanda Perjumpaan Budaya
Jejak yang tersimpan dalam arsip tidak hanya berkaitan dengan perdagangan.
Pelaku usaha dan pengguna batik berasal dari latar belakang yang beragam, termasuk masyarakat Jawa, komunitas Islam Jawa, keturunan Tionghoa, India dan Arab. Jaringan konsumen batik juga berkembang hingga berbagai wilayah Nusantara dan mancanegara.















