News  

Anak Tukang Kayu Lulus 3,5 Tahun dengan IPK 4,00, Bukti Keterbatasan Ekonomi Tak Menghalangi Prestasi

Anak Tukang Kayu Lulus 3,5 Tahun dengan IPK 4,00. Foto: Unsoed
banner 120x600

PURWOKERTO, MyInfo.ID – Keterbatasan ekonomi keluarga tidak menjadi penghalang bagi Rifki Romadhan untuk meraih prestasi akademik gemilang. Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) itu berhasil menuntaskan pendidikan dalam waktu 3,5 tahun atau tujuh semester dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00.

Pencapaian tersebut mengantarkan Rifki menjadi salah satu wisudawan terbaik pada Wisuda ke-161 Universitas Jenderal Soedirman yang digelar di Graha Widyatama Prof. Rubijanto Misman, Rabu (17/6/2026).

Di balik keberhasilannya, tersimpan kisah perjuangan seorang anak dari keluarga sederhana yang tidak pernah menyerah pada keadaan.

Ayahnya, Sunaryo, bekerja sebagai tukang kayu, sedangkan sang ibu, Toriah, merupakan ibu rumah tangga. Kondisi ekonomi yang terbatas justru menjadi motivasi bagi Rifki untuk memanfaatkan setiap kesempatan yang dimiliki.

”Kondisi ekonomi keluarga memiliki pengaruh yang besar terhadap perjalanan pendidikan saya. Sejak awal saya menyadari bahwa orang tua harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Justru karena berasal dari keluarga sederhana, saya menjadi lebih menghargai setiap kesempatan yang diberikan dan berusaha memaksimalkan setiap peluang yang ada untuk terus berkembang,” ujarnya.

Perjalanan akademiknya pun tidak selalu berjalan mulus. Rifki sempat mencoba mendaftar program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah, tetapi gagal lolos seleksi. Namun, hal itu tidak membuatnya menyerah.

Ia kemudian mencari berbagai alternatif beasiswa lain demi tetap bisa melanjutkan pendidikan.

Rifki memilih Program Studi Ekonomi Pembangunan karena ketertarikannya terhadap isu-isu ekonomi yang sudah tumbuh sejak duduk di bangku SMK.

Ia mengaku banyak mempelajari peran kebijakan ekonomi, terutama yang berkaitan dengan bank sentral dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

“Semakin banyak saya belajar, semakin saya tertarik untuk memahami bagaimana kebijakan ekonomi dapat memengaruhi kehidupan masyarakat secara luas. Karena itu, saya memilih Program Studi Ekonomi Pembangunan agar dapat mempelajari isu-isu tersebut secara lebih mendalam,” jelasnya.

Selama menjalani perkuliahan, tantangan terbesar yang dihadapi adalah membagi waktu di tengah berbagai aktivitas akademik dan nonakademik.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow