Meski demikian, Rifki memiliki cara sederhana untuk mempertahankan prestasinya, yakni fokus memahami materi yang disampaikan dosen agar proses belajar menjadi lebih efektif.
Bagi Rifki, sosok kedua orang tuanya menjadi sumber inspirasi terbesar dalam perjalanan hidupnya.
Ia mengaku banyak belajar tentang kerja keras dan tanggung jawab dari sang ayah, sementara ibunya selalu memberikan dukungan moral dan doa yang tak pernah berhenti.
”Ayah saya mengajarkan arti kerja keras dan tanggung jawab melalui tindakan nyata. Sementara itu, ibu saya selalu memberikan dukungan moral dan doa yang tidak pernah putus. Di saat saya menghadapi kesulitan, ibu selalu menjadi orang pertama yang memberikan semangat dan meyakinkan bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan membuahkan hasil,” katanya.
Salah satu pencapaian yang paling membanggakan baginya adalah berhasil menyelesaikan studi melalui jalur tugas akhir non-skripsi berbasis prestasi internasional.
Ia menjadi salah satu mahasiswa yang menempuh jalur tersebut dan satu-satunya di angkatannya.
Keberhasilan itu pun berpuncak ketika mengetahui dirinya meraih IPK sempurna.
“Saya mengetahui bahwa IPK saya mencapai 4,00 reaksi pertama saya tentu merasa sangat bersyukur dan lega. Bagi saya, angka tersebut bukan sekadar hasil akademik, melainkan representasi dari proses panjang yang telah saya jalani selama kuliah,” ungkapnya.
Di balik seluruh pencapaiannya, Rifki memegang teguh sebuah prinsip hidup sederhana yang diwariskan budaya Jawa.
Ia percaya bahwa keberhasilan bukan semata ditentukan oleh keberuntungan, melainkan oleh kemauan untuk terus berusaha.
“Wong bejo kalah karo wong sing gelem nyambut gawe” yang berarti keberuntungan akan kalah oleh orang yang mau terus berusaha katanya.















