BANYUMAS, MyInfo.ID – Program Infratani (Integrated Farming with Technology Information and Society) terus digulirkan di berbagai pondok pesantren sebagai upaya memperkuat kemandirian ekonomi berbasis pertanian.
Salah satu implementasinya terlihat di Pondok Pesantren Al Ijtihad, Desa Sirau, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas. Pesantren ini mengembangkan sistem pertanian terpadu yang mencakup berbagai komoditas, mulai dari padi, peternakan domba, perikanan, hingga budidaya cabai.
Kepala Ponpes Al Ijtihad, Tukiran Yatmo Suwito, menyebut program tersebut menjadi pijakan penting dalam membangun kemandirian ekonomi pesantren. Menurutnya, pengembangan sektor pertanian dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan berbagai unit usaha.
“Ini menjadi bagian dari upaya kami untuk mandiri secara ekonomi. Kami juga berterima kasih kepada Bank Indonesia dan Dinas Pertanian atas dukungan yang diberikan,” ujarnya saat kegiatan panen perdana cabai di lahan ponpes pada Rabu (15/4/2026).
Komoditas cabai menjadi salah satu andalan. Saat ini, terdapat sekitar 4.000 tanaman cabai yang dibudidayakan di lahan seluas 2.000 meter persegi. Produksi cabai cukup menjanjikan, dengan capaian panen sekitar 1 kuintal setiap lima hari.
Dalam satu periode tanam, panen dapat dilakukan hingga 25 kali dengan total produksi mencapai 25 kuintal. Mayoritas hasil panen, sekitar 95 persen, dipasarkan karena kebutuhan internal relatif kecil.
Dari sisi harga, cabai yang dihasilkan juga memiliki nilai jual yang kompetitif. Harga terakhir tercatat Rp53 ribu per kilogram, bahkan sempat melonjak hingga Rp97 ribu per kilogram saat periode Lebaran.
Selain aspek ekonomi, kegiatan pertanian ini juga menjadi sarana pembelajaran bagi santri. Mereka dilibatkan langsung dalam proses budidaya, sehingga memperoleh pengalaman praktis di bidang pertanian.
“Santri kami libatkan agar memiliki keterampilan dan bekal ke depan,” kata Tukiran.













