PURWOKERTO, MyInfo.ID – Transformasi digital terus mendorong pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) untuk beradaptasi. Namun di balik persoalan klasik seperti penjualan, ada tantangan lain yang kerap luput dari perhatian, yakni minimnya pengelolaan data yang terstruktur.
Direktur PT Rekatama Digdaya Solusi (RDS), Trias Bratakusuma, mengungkapkan bahwa banyak bisnis justru mengalami kendala bukan karena sepi pembeli, melainkan karena tidak memiliki arah berbasis data.
“Banyak bisnis yang tumbang bukan karena kurang pembeli, melainkan karena mereka ‘flying blind’ menjalankan bisnis tanpa navigasi data yang jelas,” ujarnya dalam keterangan, Kamis (16/4/2026).
Terjebak “Recap Fatigue”
Trias menjelaskan, salah satu masalah utama yang sering terjadi adalah fenomena “Recap Fatigue”. Kondisi ini muncul ketika pelaku usaha masih mengandalkan pencatatan manual, seperti nota kertas atau rekap penjualan yang tidak terorganisir.
“Kita semua akrab dengan fenomena ‘Recap Fatigue.’ Ketika operasional bisnis masih bertumpu pada rekap penjualan manual yang berantakan, catatan kertas, atau nota yang tercecer, melihat kondisi cashflow yang sebenarnya jadi tantangan berat,” katanya.
Situasi tersebut membuat banyak pengusaha kesulitan membaca kondisi keuangan secara akurat. Tanpa data yang rapi, pengambilan keputusan seringkali hanya didasarkan pada perkiraan.
“Tanpa data yang terstruktur, pengusaha seringkali hanya menebak-nebak kesehatan bisnisnya sendiri. Inilah titik di mana banyak dari kita terjebak dalam rutinitas administrasi hingga kehilangan fokus untuk mengembangkan visi strategis,” tambahnya.
Kezflo Versi 2 dan Fitur AI Business Analyst
Untuk menjawab persoalan tersebut, RDS menghadirkan pembaruan pada platform digitalnya, Kezflo.com. Dalam versi terbarunya, Kezflo memperkenalkan fitur AI Business Analyst yang dirancang untuk membantu pelaku usaha memahami data secara lebih mendalam.
“Itulah alasan kami membangun Kezflo.com. Kami ingin mengubah kebiasaan ‘informal’ menjadi sesuatu yang ‘insightful.’ Hari ini, saya sangat antusias untuk mengumumkan bahwa Kezflo.com resmi merilis fitur AI Business Analyst. Ini bukan sekadar update teknis, tapi lompatan besar bagi ekosistem SME di Indonesia,” ujar Trias.
Melalui platform ini, data penjualan manual dapat diolah menjadi laporan digital yang lebih profesional. Pengguna juga dapat mengakses dashboard serta laporan dalam format Excel tanpa perlu memahami konsep akuntansi yang kompleks atau menggunakan sistem POS yang rumit.
Permudah Analisis dan Pengambilan Keputusan
Kezflo dirancang dengan pendekatan sederhana agar mudah digunakan oleh pelaku usaha dari berbagai latar belakang. Platform ini menawarkan sejumlah fitur utama, mulai dari otomatisasi laporan hingga analisis berbasis kecerdasan buatan.
Dengan fitur tersebut, catatan penjualan manual dapat langsung dikonversi menjadi data digital yang terorganisir. Selain itu, sistem tidak hanya menampilkan angka, tetapi juga memberikan analisis untuk membantu memahami kondisi bisnis secara lebih menyeluruh.
Hasilnya, pelaku usaha dapat mengambil keputusan dengan lebih tepat, seperti mengidentifikasi kebocoran biaya atau menentukan waktu yang ideal untuk ekspansi usaha.
Dorong UMKM Naik Kelas
Trias menegaskan, pengembangan Kezflo Versi 2 merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendorong UMKM Indonesia menjadi lebih adaptif terhadap teknologi.
“Visi kami di Kezflo tetap sama: Menyederhanakan teknologi agar bisa digunakan oleh siapa saja. Kezflo Versi 2 adalah komitmen kami untuk membuat bisnis SME di Indonesia naik kelas lebih tangguh, lebih rapi, dan lebih terukur,” ujarnya.
Ia berharap kehadiran fitur AI Business Analyst dapat memberikan dampak nyata bagi pelaku usaha, sekaligus memperkuat ekosistem UMKM di Tanah Air.
“Semoga kehadiran fitur AI Business Analyst ini benar-benar membawa manfaat nyata dan turut memajukan ekosistem SME di tanah air. Let’s move from ‘informal’ to ‘insightful.’,” pungkasnya.













