UMKM Banyumas Raya Tampil di ISEF 2026, Thulada Lumbung Rempah Raih Juara 2

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, Aswin Gantina. Foto: BI Purwokerto
banner 120x600

“Pengembangan ekonomi syariah perlu dilakukan secara terintegrasi dengan mengoptimalkan potensi daerah. Selain memperkuat UMKM halal, pengembangan pariwisata ramah muslim dan wastra lokal juga dapat menjadi penggerak ekonomi serta membuka peluang usaha bagi masyarakat,” katanya.

Di tingkat daerah, KPwBI Purwokerto menjalankan sejumlah program untuk memperkuat ekonomi dan keuangan syariah. Upaya tersebut mencakup pengembangan UMKM halal, pemberdayaan pesantren, digitalisasi zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF), serta peningkatan literasi masyarakat.

Program yang dijalankan antara lain pelatihan penyelia halal, pengelolaan ZISWAF dan pemanfaatan QRIS bagi pengurus masjid, serta pelatihan kewirausahaan dan pelaporan keuangan pesantren melalui Sistem Informasi Pengelolaan Usaha dan Keuangan Bisnis Pesantren Indonesia (SIPUSBI).

BI Purwokerto juga mendorong kemandirian pesantren melalui pelatihan Good Agricultural Practices (GAP) untuk budidaya cabai dan peningkatan kompetensi teknologi digital bagi santri dari lima pesantren di Banyumas Raya.

Edukasi ekonomi syariah turut diberikan kepada pelaku UMKM, takmir masjid, dan masyarakat umum. Kegiatan serupa dilaksanakan melalui Pasar Ramadan, Karya Kreatif Serayu (KKS), serta lokakarya pengelolaan ZISWAF berbasis digital.

Sementara itu, SELARAS x Festival Literasi 2026 yang berlangsung pada 4–6 September 2026 menjadi wadah promosi produk halal, UMKM, industri kreatif, dan pariwisata ramah muslim. Kegiatan tersebut juga menghadirkan peragaan busana bertajuk “Kemilau Wastra Serayu” yang melibatkan desainer pelajar dan profesional.

Perluasan akses pasar juga dilakukan melalui Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Jawa 2026. Dalam kegiatan tersebut, BI Purwokerto memfasilitasi business matching bagi lima UMKM untuk mempertemukan mereka dengan calon mitra bisnis.

“Ke depan, KPwBI Purwokerto bersama pemerintah daerah dan mitra strategis akan terus mendorong penguatan industri halal, pemberdayaan pesantren, pengembangan keuangan sosial syariah, serta UMKM dan wastra lokal. Kami berharap berbagai upaya ini dapat meningkatkan daya saing usaha sekaligus memberikan manfaat nyata bagi perekonomian Banyumas Raya,” kata Aswin.

Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-13 berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta. Kegiatan ini menghadirkan lebih dari 100 agenda dengan melibatkan lebih dari 1.000 pelaku industri halal.

Rangkaian acara mencakup Forum Bisnis Pesantren, business matching, serta forum pengembangan industri halal dan keuangan sosial syariah. Acara yang dibuka Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti itu juga ditandai peluncuran tiga program unggulan, yakni Islamic Financial Market Code of Conduct (ICoC), pembaruan indeks penerapan prinsip utama zakat (Zakat Core Principles), dan program beasiswa internasional melalui pemanfaatan dana sosial syariah.

Hingga penutupan, ISEF 2026 mencatat penjualan produk makanan halal dan fesyen sebesar Rp13,85 miliar. Adapun nilai business matching pembiayaan dan perdagangan syariah mencapai Rp3,16 triliun.

Capaian tersebut menunjukkan peran ajang promosi dan kemitraan dalam menghubungkan peningkatan kapasitas pelaku usaha dengan peluang transaksi. Bagi UMKM Banyumas Raya, partisipasi dalam ISEF diharapkan dapat memperkuat daya saing produk, memperluas jaringan pemasaran, dan membuka kesempatan menjangkau pasar internasional.

Related Images:

Follow WhatsApp Channel My Info untuk update berita terkini setiap hari! Follow