Hal serupa disampaikan Kepala SD Inpres 1 Serui, Herdelina Sembay, yang menyiapkan siswa melalui latihan rutin dan penguatan materi.
“Guru-guru kami rutin memberikan latihan soal sebelum murid pulang sekolah. Anak-anak sangat antusias, bahkan orang tua turut mendukung dengan menunggu hingga sore hari,” ujarnya.
Di sisi lain, pengalaman siswa saat mengikuti TKA juga beragam. Nur Aisyah, siswa SD Integral Lukman Al Hakim Serui, mengaku sempat merasa cemas sebelum ujian dimulai.
“Awalnya saya takut, tapi ternyata soal-soalnya mudah karena sudah pernah dipelajari sebelumnya,” ungkap Nur.
Sementara itu, Julio Iwanggin dari SD Inpres 1 Serui mengaku rasa gugupnya hilang setelah mulai mengerjakan soal dengan tenang.
Pelaksanaan TKA di Kepulauan Yapen mencerminkan sinergi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, guru, orang tua, hingga siswa. Kolaborasi ini dinilai menjadi kunci dalam mewujudkan pendidikan yang merata hingga ke daerah terpencil.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, sebelumnya menegaskan pentingnya peran bersama dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
“Salah satu tujuan TKA adalah untuk mengukur kemampuan literasi seluruh murid Indonesia. Kolaborasi antarsekolah, dukungan orang tua, dan kegigihan murid menjadi bukti semangat membangun pendidikan Indonesia menjadi tanggung jawab bersama semua pihak,” tutur Abdul Mu’ti pada kesempatan berbeda.
Kisah dari Kepulauan Yapen memperlihatkan kontras antara keterbatasan akses pendidikan dengan tingginya semangat belajar siswa. Di tengah tantangan geografis, kolaborasi lintas pihak justru menjadi solusi nyata agar pendidikan tetap berjalan.















