Allen juga berulang kali menyinggung keyakinan Kristennya dalam manifesto tersebut. Ia bahkan menuliskan sejumlah “bantahan” terhadap kritik yang diperkirakan akan muncul atas tindakannya.
“Berdiam diri hanya berlaku ketika Anda sendiri yang tertindas. Saya bukan orang yang diperkosa di kamp penahanan. Saya bukan nelayan yang dieksekusi tanpa pengadilan. Saya bukan anak sekolah yang diledakkan atau anak yang kelaparan atau gadis remaja yang dilecehkan oleh banyak penjahat di pemerintahan ini,” tulisnya.
Pernyataan itu diduga merujuk pada sejumlah isu politik dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat, termasuk penegakan hukum imigrasi, serangan terhadap kapal terkait Venezuela, hingga kasus Jeffrey Epstein.
Presiden Donald Trump menanggapi insiden tersebut dengan menyebut pelaku sebagai sosok yang bermasalah secara mental.
Trump menyebut Allen sebagai “orang sakit” yang menurutnya memiliki kebencian terhadap umat Kristen. Ia juga membantah seluruh tuduhan yang diarahkan dalam manifesto tersebut saat diwawancarai program 60 Minutes di CBS.
Penyelidik menyebut Allen tidak memiliki catatan kriminal sebelumnya. Ia diketahui bekerja sebagai tutor di Torrance, California, serta merupakan lulusan teknik mesin yang juga bekerja sebagai pengembang game.
Polisi meyakini Allen bertindak sendiri tanpa keterlibatan jaringan lain. Ia disebut membeli senjata api secara legal, rutin berlatih di lapangan tembak, lalu melakukan perjalanan dari Los Angeles ke Washington menggunakan kereta api sebelum menginap di hotel lokasi acara.
Saudara perempuannya juga disebut sempat memberi keterangan kepada penyidik bahwa Allen pernah berbicara soal keinginannya melakukan “sesuatu” untuk memperbaiki dunia.
Kasus ini kini masih terus didalami aparat keamanan federal untuk memastikan seluruh rangkaian perencanaan serangan serta kemungkinan ancaman lanjutan terhadap pejabat pemerintah AS.















