Bupati Sadewo Tri Lastiono mengungkapkan bahwa capaian Banyumas saat ini tidak diraih secara instan. Ia mengingatkan bahwa daerah tersebut pernah mengalami krisis sampah pada 2018.
“Saat itu sampah dimana-mana. Landfill banyak ditutup karena masyarakat menolak,” jelasnya.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, pemerintah daerah harus mengalokasikan anggaran besar, yakni sekitar Rp30 hingga Rp40 miliar per tahun.
Dalam pengelolaan sampah, Banyumas mengembangkan pendekatan berbasis nilai ekonomi melalui konsep zero waste to money.
“Saya kepenginnya zero waste to money, jadi sampahnya hilang dan menghasilkan uang yang bisa digunakan kembali untuk biaya pengelolaan sampah tersebut,” ujar Sadewo Tri Lastiono.
Pendekatan ini dinilai lebih efisien dibandingkan konsep lain seperti waste to energy yang membutuhkan biaya besar.
Selain kerja sama antarpemerintah, Banyumas juga membuka peluang investasi melalui skema business to business (B2B). Beberapa sektor yang ditawarkan meliputi:
- Produksi palet dari limbah untuk material lantai
- Pengolahan biji plastik menjadi produk seperti ember
- Ekspor hasil olahan sampah ke Malaysia
Langkah ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus mengurangi beban lingkungan.
Kunjungan ini merupakan kelanjutan dari komunikasi yang sudah berlangsung sebelumnya. Delegasi Malaysia diketahui telah beberapa kali datang ke Banyumas, sementara pemerintah daerah juga pernah diundang ke Kuala Lumpur untuk mempresentasikan sistem pengelolaan sampah.













