Saat jarak sudah sangat dekat, gempuran peluru mendadak ditembakkan dari depan dan belakang. Pasukan Pelajar IMAM yang dipimpin oleh Mochammad Besar terperanjat. Kepungan yang begitu mendadak membuat situasi berujung chaos.
Baku tembak jarak dekat yang mengerikan tak terelakkan di tengah ladang jagung. Dentuman mortir milik musuh dan ledakan balasan dari pejuang saling berseliweran di antara batang-batang jagung yang tumbang.
Kalah dalam jumlah personel, minim pengalaman tempur, serta kalah jauh dalam kelengkapan persenjataan modern dibanding serdadu Belanda yang terlatih perang dunia, Pasukan Pelajar IMAM akhirnya dipaksa mundur ke arah utara dan barat.
Pertempuran tidak seimbang itu memakan korban jiwa yang memilukan. Sang komandan muda Mochammad Besar gugur di tempat, disusul Soeparto si pencetus Pasukan Pelajar, dua anggota laskar Hizbullah, serta tiga warga sipil tempatan yang tewas tertembak.
Saksi Bisu Monumen Prompong dan Puisi Kerinduan Kemerdekaan
Untuk mengabadikan pengorbanan para pelajar berseragam sekolah yang gugur membela nusa, keluarga besar eks-Pasukan IMAM mendirikan Monumen Prompong pada tahun 1979.
Monumen berbentuk silinder tak beraturan dengan diameter 200 sentimeter dan tinggi 140 sentimeter tersebut berdiri tegap di antara jalan raya utama yang menghubungkan Kota Purwokerto dengan kawasan wisata Baturraden.
Meski kini pahatannya mulai melapuk tergerus zaman dan cuaca hujan lereng gunung, pada dinding tugu tersebut terukir sajak menyayat hati yang mengabadikan detik-detik mencekam Jumat kelabu tahun 1947 itu:
Di pagi cerah dan hening ini
Gunung Slamet megah bagai saksi
Musuh datang merobek kesunyian
Awali hiruk pikuk pertempuran
Akhirnya
Ku relakan jiwa ragaku ini
Kubiarkan darahku membasuh bumi
Kesemuanya untuk tanah pusaka tercinta
Indonesia merdeka
Prompong, 8 Agustus 1947
Hingga hari ini, tugu sederhana di antara jalan raya tersebut terus berdiri tenang, mengingatkan setiap pelancong yang melintas menuju Baturraden bahwa tanah yang mereka pijak pernah dibasahi oleh darah anak-anak sekolah menengah yang rela mati demi tegaknya Sang Saka Merah Putih.















