PURWOKERTO, MyInfo.ID – Koshta Sanggraha kembali diberikan kepada pegiat yang dinilai konsisten merawat dan mengenalkan arsip sejarah kepada masyarakat. Tahun ini, penghargaan tersebut diberikan kepada Komunitas Tjilatjap History dan platform sejarah Roda Sayap dalam Banjoemas History Week (BHW) 2026.
Penghargaan diserahkan pada Malam Penganugerahan dan Penutupan BHW 2026 di Hetero Space, Purwokerto, Minggu (13/9/2026) malam.
Bagi penerimanya, Koshta Sanggraha bukan sekadar penghargaan. Ada tanggung jawab untuk terus menjaga arsip, menelusuri informasi sejarah, sekaligus membuatnya lebih mudah dipahami masyarakat.
Pegiat Tjilatjap History, Riyadh Ginanjar Widodo, mengaku tidak menyangka komunitasnya mendapat penghargaan tersebut.
Ia menyebut aktivitas yang dilakukan Tjilatjap History selama ini banyak terinspirasi dari Banjoemas History Heritage Community (BHHC), termasuk pendirinya, Jatmiko Wicaksono.
“Saya sebenarnya bingung ini. Jadi pergerakan Komunitas Tjilatjap History ini sudah didikan dari Mas Miko (founder BHHC) juga. Jadi kita sama-sama belajar untuk melestarikan sejarah lokal,” kata dia.
Tjilatjap History merupakan komunitas berbasis di Cilacap yang bergerak dalam penelusuran, dokumentasi, dan edukasi sejarah lokal.
Komunitas tersebut mendirikan rumah arsip pada 2014. Aktivitas literasi dan penyimpanan arsip kemudian semakin aktif sejak 2021.
Selain mengumpulkan arsip, mereka menggelar pameran warisan budaya, diskusi sejarah, serta berbagai kegiatan edukasi untuk menjaga ingatan masyarakat terhadap situs dan peristiwa bersejarah di Cilacap.
Riyadh berharap penghargaan tersebut justru membuka lebih banyak ruang kerja sama antar-komunitas.
“Sebenarnya semua di 2026 ini sudah saatnya kita berkolaborasi. Jadi semuanya ya bersatu lah untuk kemajuan bangsa,” tambahnya.
Penghargaan kedua diberikan kepada Faishal Ammar melalui platform Roda Sayap. Ia mengaku perjalanan platform tersebut bermula dari ketertarikannya menelusuri informasi sejarah perkeretaapian yang tersebar di berbagai sumber.















