Beberapa di antaranya Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Pekalongan, Dinarpus Kota Pekalongan, Dinarpus Kabupaten Rembang, Dinarpus Banyumas, Dinarpus Kabupaten Batang dan Dinarpus Kabupaten Boyolali.
Turut terlibat Museum Batik Tiga Negeri, Yayasan Lasem Heritage, Rumah Arsip Banjoemas, Yayasan Haji Bilal, Batik Afif Syakur, Museum Batik Gan, Batik Pesisir H. Ahmad Failasuf, Batik Bulan Kota Pekalongan dan Batik Tobal.
Penggabungan berbagai koleksi tersebut diharapkan dapat memperlihatkan batik dari perspektif yang lebih luas, termasuk kaitannya dengan jaringan perdagangan dan kehidupan sosial masyarakat Indonesia.
Keterlibatan Rumah Arsip Banjoemas dalam nominasi MKB menjadi salah satu cara membawa sejarah lokal Banyumas ke ruang yang lebih luas.
Arsip yang berhasil dihimpun tidak berhenti sebagai koleksi. Materi tersebut juga digunakan untuk penelitian, digitalisasi, pameran dan kegiatan edukasi publik.
Rumah Arsip Banjoemas merupakan ruang komunitas yang dikelola Banjoemas History Heritage Community. Komunitas ini berfokus pada penyelamatan memori lokal melalui pengumpulan foto lama, dokumen sejarah dan materi visual tentang Banyumas Raya.
Kegiatannya juga mencakup riset serta kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pelestarian arsip.
Jatmiko berharap koleksi visual tersebut dapat terus dirawat dan dimanfaatkan sebagai sumber pengetahuan bagi generasi berikutnya.
Upaya membawa arsip lokal ke dalam nominasi Memori Kolektif Bangsa juga mendapat dukungan Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Dinarpusda) Kabupaten Banyumas.
Kepala Dinarpusda Banyumas, Agus Anggraito AP M.Si, menyatakan pemerintah daerah siap membantu lembaga maupun individu dari Banyumas yang mengikuti proses penominasian MKB 2026, terutama dalam hal yang menjadi kewenangannya.
“Kami akan membantu semampu kami, misalnya terkait administratif dan serta yang menjadi kewenangan kami,” kata Agus dalam rapat koordinasi bersama 17 lembaga dan individu yang berkolaborasi dalam khazanah arsip batik beberapa waktu lalu.
Bagi Rumah Arsip Banjoemas, perjalanan 140 foto tersebut bukan hanya tentang menyimpan gambar masa lalu. Koleksi itu menjadi upaya menjaga jejak batik dan kehidupan masyarakat Banyumas agar tetap dapat dibaca, diteliti dan diwariskan sebagai bagian dari sejarah Indonesia.















