“Yang kami himpun, kami memerintahkan Kasi Dokes kami untuk koordinasi dengan Dinkes melakukan pengecekan, sekitar 83-an orang yang dilaporkan kepada kami tersebar di beberapa rumah sakit,” ungkapnya.
Menurut Petrus, beberapa korban mengalami luka serius, termasuk patah tulang.
“Saya mendengar ya. Kemudian kita kemarin itu mengecek juga, ada yang sampai patah tulang,” katanya.
Dari hasil penyelidikan sementara, polisi menemukan adanya selebrasi yang dilakukan sejumlah drifter dengan melempar kaos ke arah tribun VIP. Momen tersebut diduga memicu penonton bergerak bersamaan untuk berebut suvenir.
“Namun temuan yang kami temukan dari penyelidikan itu adalah ada kegiatan selebrasi yang dilakukan oleh pihak dari pemain atau drifter. Yaitu, membagikan atau melemparkan kaos. Sehingga masyarakat atau pengunjung yang berada di tribun VIP terutama, karena lemparan itu ke tribun VIP, mengakibatkan tidak beraturan,” ungkap Petrus.
Ia menjelaskan, aksi pembagian kaos berlangsung lebih dari satu kali. Akibatnya, penonton saling berdesakan sehingga distribusi beban di atas tribun menjadi tidak seimbang.
“Sehingga beban satu dengan yang lain tidak seimbang. Berdesak-desakan, kemudian terjadi pergeseran (panggung tribun VIP). Itu berulang, pembagian itu lebih dari satu kali lemparan kaos,” ujarnya.
Karena tribun yang digunakan merupakan bangunan nonpermanen, kondisi tersebut diduga menyebabkan struktur bergeser sebelum akhirnya roboh.
“Karena itu tribun atau panggungnya adalah nonpermanen, kemudian ada pergeseran, goyang-goyang, segala macam, kemudian rubuh. Tentu, ini masih dalam proses pemeriksaan kita yang mengakibatkan rubuhnya itu,” pungkas Petrus.
Polresta Banyumas memastikan penyelidikan masih terus dilakukan untuk mengungkap penyebab pasti insiden tersebut, termasuk menelusuri kemungkinan adanya unsur kelalaian dalam penyelenggaraan Kejurnas Drift Speed Fest di GOR Satria Purwokerto.















